Senin, 16 April 2012

Peran IQ, EQ dan SQ pada Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang IQ atau lebih dikenal dengan Intelektual Question merupakan bagian terpenting dalam individu seseorang. Intelektual membantu seseorang dalam menganalisa sesuatu, berfikir secara rasional dan melakukan secara maksimal. Intelektual sering kali menjadi tolak ukur dalam perencanaan program pembelajaran. EQ atau biasa disebut Emotional Question adalah bagian yang menjadi identitas kepribadian seseorang. Emosional yang terjaga baik dan tertata rapi juga akan menghasilkan pribadi yang baik dan berkualitas. Sehingga dalam pelaksanaan proses pembelajaran, emosional peserta didik sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. SQ atau Spiritual Question merupakan bagian terluar dari individu. Spiritual sering dikaitkan dengan nilai-nilai kepercayaan dan agama atau dalam Islam dikenal dengan Habluminalloh. Kepercayaan juga menjadi faktor penentu pelaksanaan pendidikan, karena setiap manusia memiliki kodrat untuk meyakini sebuah agama. Ketiga elemen diatas terlihat berbeda dan menganalisa bagian-bagai tertentu dalam individu, namun dalam proses pelaksanaan pembelajaran, ketiga elemen ini saling berkaitan dan mendukung satu sama lain. Tidak jarang ditemuka ditengah lapangan, para ilmuwan yang mempunyai pemikiran brilian, namun terkendala dalam emosinya sehingga sering mengalami gangguan kejiwaan. Banyak juga para ilmuan yang tidak mengenal agama, sehingga ilmu yang ia miliki digunakan pada tempat yang tidak semestinya. B. Batasan Masalah Permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah implementasi IQ, SQ, dan EQ dalam pembelajaran. C. Rumusan Masalah Ada beberapa pertanyaan yang menjadi akar dari makalah ini, diantaranya: 1. Bagaimanakah hubungan kerjasama anara IQ, SQ, dan EQ? 2. Bagaimanakah cara mengaktifkan radar emosi? 3. Apakah yang dimaksud dengan digitalisasi spiritual? 4. Bagaimanakah kaitannya dengan pendidikan? D. Tujuan Dengan makalah ini, maka penulis mengaharapkan tercapainya beberapa tujuan, diantaranya: 1. Mengetahui hubungan kerja anatara IQ, EQ dan SQ. 2. Memahami cara mengaktifkan radar emosi. 3. Memahami pengertian digitalisasi spiritual. 4. Memahami kaitannya dengan dunia pendidikan. BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian IQ, EQ dan SQ serta hubungan kerja samanya. a. Kecerdasan Intelektual (IQ) Kecerdasan yang terletak di otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologis dengan “What I Think“. Kecerdasan inilah yang paling banyak di dengar oleh kita. Kecerdasan ini dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Kecerdasan inilah yang jadi ukuran sebagian besar orang untuk meraih kesuksesan, banyak orang berpikir, dengan IQ tinggi, seseorang bisa meraih masa depan yang cerah dalam hidupnya. Bahkan sistem pendidikan di negara kita inipun masih memandang bahwa IQ adalah modal dasar siswa atau mahasiswa untuk meraih keberhasilan. akan tetapi test tersebut juga tidak dapat secara mutlak dinyatakan sebagai salah satu identitas dirinya karena tingkat intelektual seseorang selalu dapat berubah berdasarkan usia mental dan usia kronologisnya. IQ adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika dan rasio seseorang. Dengan demikian, hal ini berkaitan dengan keterampilan berbicara, kesadaran akan ruang, kesadaran akan sesuatu yang tampak, dan penguasaan matematika. IQ mengukur kecepatan kita untuk mempelajari hal-hal baru, memusatkan perhatian pada aneka tugas dan latihan, menyimpan dan mengingat kembali informasi objektif, terlibat dalam proses berpikir, bekerja dengan angka, berpikir abstrak dan analitis, serta memecahkan permasalahan dan menerapkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Jika IQ kita tinggi, kita memiliki modal yang sangat baik untuk lulus dari semua jenis ujian dengan gemilang, dan meraih nilai yang tinggi dalam uji IQ. b. Kecerdasan Emosional (EQ) Kecerdasan emosional adalah sebuah kemampuan untuk “mendengarkan” bisikan emosi, dan menjadikannya sebagai sumber informasi maha penting untuk memahami diri sendiri dan orang lain demi mencapai sebuah tujuan. Banyak orang yang salah memposisikan kecerdasan Emosional ini di bawah kecerdasan intelektual. Tetapi, penelitian mengatakan bahwa kecerdasan ini lebih menentukan kesuksesan seseorang dibandingkan dengan kecerdasan sosial. Kecerdasan ini lebih tepat diungkapkan dengan “What I feel” Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa “kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut kecerdasan emosional (EQ). Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat. Ya inilah kecerdasan yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan seseorang, Emotional Quotient atau EQ. EQ adalah serangkaian kecakapan yang memungkinkan kita melapangkan jalan didunia yang rumit, aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh misteri, dan kepekaan yang penting untuk berfungsi secara efektif setiap hari. Dalam bahasa sehari-hari, EQ disebut sebagai akal sehat. c. Kecerdasan Spiritual (SQ) Kecerdasan ini pertama kali digagas oleh Danar Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University. Dikatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. SQ juga bermakna kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Orang yang ber SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Manusia yang memiliki SQ tinggi cenderung akan lebih bertahan hidup dari pada orang yang ber SQ rendah. Banyak kejadian-kejadian bunuh diri karena masalah yang sepele, mereka yang demikian itu tidak bisa memberi makna yang positif sari setiap kejadian yang mereka alami dengan kata lain SQ atau kecerdasan spiritual mereka sangat rendah. Menurut Stephen R. Covey, IQ adalah kecerdasan manusia yang berhubungan dengan mentalitas, yaitu kecerdasan untuk menganalisis, berfikir, menentukan kausalitas, berfikir abstak, bahasa, visualisasi, dan memahami sesuatu. IQ adalah alat kita untuk melakukan sesuatu letaklnya di otak bagian korteks manusia. Kemampuan ini pada awalnya dipandang sebagai penentu keberhasilan sesorang. Namun pada perkembangan terakhir IQ tidak lagi digunakan sebagai acuan paling mendasar dalam menentukan keberhasilan manusia. Karena membuat sempit paradigma tentang keberhasilan, dan juga pemusatan pada konsep ini sebagai satu satunya penentu keberhasilan individu dirasa kurang memuaskan karena banyak kegagalan yang dialami oleh individu yang ber IQ tinggi (dalam Sukidi). Ketidak puasan terhadap konsepsi IQ sebagai konsep pusat dari kecerdasan seseorang telah melahirkan konsepsi yang memerlukan riset yang panjang serta mendalam. Daniel Golman mengeluarkan konsepsi EQ sebagai jawaban atas ketidak puasan manusia jika dirinya hanya dipandang dalam struktur mentalitas saja. Konsep EQ memberikan ruang terhadap dimensi lain dalam diri manusia yang unik yaitu emosional. Disamping itu Golman mempopulerkan pendapat para pakar teori kecerdasan bahwa ada aspek lain dalam diri manusia yang berinteraksi secara aktif dengan aspek kecerdasan IQ dalam menentukan efektivitas penggunaan kecerdasan yang konvensional tersebut (dalam Danah Zohar dan Ian Marshal) Komponen utama dari kecerdasan sosial ini adalah kesadaran diri, motivasi pribadi, pengaturan diri, empati dan keahlian sosial. letak dari kecerdasan emosional ini adalah pada sistem limbik. EQ lebih pada rasa, Jika kita tidak mampu mengelola aspek rasa kita dengan baik, maka kita tidak akan mampu untuk menggunakan aspek kecerdasan konvensional kita (IQ) secara efektif, karena IQ menentukan sukses hanya 20% dan EQ 80%. Kecerdasan spiritual mampu mengoptimalkan kerja kecerdasan yang lain. Individu yang mempunyai kebermaknaan (SQ) yang tinggi, mampu menyandarkan jiwa sepenuhnya berdasarkan makna yang ia peroleh, dari sana ketenangan hati akan muncul. Jika hati telah tenang (EQ) akan memberi sinyal untuk menurunkan kerja simpatis menjadi para simpatis. Bila ia telah tenang karena aliran darah telah teratur maka individu akan dapat berfikir secara optimal (IQ), sehingga ia lebih tepat dalam mengambil keputusan. Manajemen diri untuk mengolah hati dan potensi kamanusiaan tidak cukup hanya denga IQ dan EQ, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang sangat berperan dalam diri manusia sebagai pembimbing kecerdasan lain. Kini tidak cukup orang dapat sukses berkarya hanya dengan kecerdasan rasional (yang bekerja dengan rumus dan logika kerja), melainkan orang perlu kecerdasan emosional agar merasa gembira, dapat bekerjasama dengan orang lain, punya motivasi kerja, bertanggung jawab dan life skill lainnya. Perlunya mengembangkan kecerdasan spiritual agar ia merasa bermakna, berbakti dan mengabdi secara tulus, luhur dan tanpa pamrih yang menjajahnya. Karena itu sesuai dengan pendapat Covey diatas bahwa “SQ merupakan kunci utama kesadaran dan dapat membimbing kecerdasan lainnya”. Dalam penyelesaian masalah, maka ada 2 orientasi yang akan dilakukan setiap individu terkait dengan IQ, EQ, SQ Orientasi Materialisme 1. Ketika masalah muncul pada dimensi fisik, 2. Maka akan terjadi rangsangan pada dimensi emosi (EQ), berupa kemarahan, kesedihan, kekesalan, atau ketakutan. 3. Akibatnya, suara hati ilahiah pada dimensi sepiritual (SQ) tidak bisa bekerja. Akhirnya aktifitas pada dimensi fisik akan bekerja tidak optimum bahkan tidak normal. Orientasi Sepiritualisme Tauhid 1. Ketika terjadi masalah pada dimensi fisik, 2. Maka akan terjadi rangsangan pada dimensi emosi (EQ), namun karena aspek mental telah dilindungi oleh prinsip tauhid, maka emosi akan tetap tenang terkendali. 3. Akibatnya, suara hati ilahiah pada dimensi sepiritual (SQ) bekerja dengan normal. 2. Mengaktifkan Radar Emosi Dalam alqur’an surat An-Nas 1-6 menjelaskan bahwa manusia harus dan terus berlindung kepada Alloh agar tidak mudah terhasut oleh rayuan syetan yang akan membawa kepada kesesatan dan melakukan kejahatan. Ketika suatu permasalahan atau rangsangan muncul, maka otomatis radar emosi akan merespon, respon ini bisa berbentuk respon positif atau negatif. Tujuan pengendalian diri adalah menjaga posisi emosi pada daerah nol tau netral. Pada daerah ini, SQ akan bekerja secara maksimal dan optimal sehingga menghasilkan perilaku yang tenang. Artinya, apabila ada rangsangan datang dari luar berenergi -5, maka radar hati harus memberikan energi +5, sehingga radar emosi berada pada daerah nol. Seringkali kita menerima rangsangan dari luar sebesar -1, namun radar hati tidak sanggup mengatasinya dengan memberikan +1, maka dampak yang dihasilkan adalah perasaan galau, tidak tenang dan bertindak diluar kewajaran. Begitupun sebaliknya, jika datang rangsangan dari luar sebesar +2, namun radar hati tidak memberikan energi sebesar -2, maka akan timbul rasa ujub dan sombong, perasaan inipun dilarang oleh Alloh swt. Sebenarnya disaat hati tidak sanggup memebrikan energi yang sesuai dengan energi yang datang dari luar, maka disaat itu syetan melancarkan srateginya untuk mengelincirkan manusia. Ada beberapa tips agar rangsangan dari luar dapat diatasi oleh hati dengan seimbang sehingga mengahasilkan emsosi yang netral, diantaranya: 1. Saat marah, maka ucapkanlah istighfar. 2. Kehilangan dan sedih, maka ucapkanlah innalillahi wainna ilaihi roji’un. 3. Bahagia, maka ucapkanlah hamdalah 4. Disaat takut maka ucapkanlah Allohu Akbar 5. Kagum, maka ucapkanlah subhanalloh 6. Panik, maka ucapkanlah Laa hawlaa walaa quwwaata illa billah Ucapan ucapan diatas diyakini ampuh dalam mengatasi setiap tekanan dan energi sehingga dapat membawa keadaan dalam keadaaan normal. 3. Digitalisasi Spiritual Dalam Alqur’an surah Nuh ayat 15-18 dijelaskan bahwa manusia harus memperhatikan bumi ini, karena setiap waktu perubahan terus berlalu dan bumi ini akan mengarah kepada era digital. Semenjak ditemukannya bilangan binner 0 dan 1, maka semenjak itu perkembangan teknologi dan informasi berkembang pesat. Dampak perkembangan teknologi dan informasi ini mengandung sisi positif dan negatif, sisi positifnya tentu akan memudahkan kerja manusia, bayangkan dahulu disaat belum ada alat telekomunikasi, hubungan jarak jauh hanya bisa lewat surat sehingga memerlukan waktu lama dan biaya yang mahal. Namun sekarang, melalui Hp yang bisa dibawa kemana-mana, kerabat yang jauh disana dapat dipanggil dengan mudah dan waktu yang singkat. Sisi negatifnya juga tidak kala besar, banyak manusia yang mulai meninggalkan nilai-nilai spiritual sehingga didalam dirinya hanya dunia dan materi. Manusia berfikir seolah-olah dengan semua keperluannya dapat terpenuhi dengan teknologi yang ada. Padahal manusia memiliki dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Unsur jasmani mungkin dapat dipenuhi dengan teknologi tadi, namun tidak demikian dengan rohani. Rohani memerlukan nilai-nilai spiritual yang tidak bisadipenuhi oleh teknologi melainkan oleh pelajaran-pelajaran agama. Kesuksesan dewasa ini bukan lagi didefinisikan sebagai ‘berada di puncak tujuan’, melainkan ‘proses perjalanan menuju puncak tujuan.’ Ibarat mendaki puncak gunung yang memakan waktu 5 jam, jika selama mendaki kita tak pernah merasakan kenikmatannya, maka hanya saat berada di puncak gunung itulah (max satu jam) kita merasakan kesuksesan pendakian. Lain halnya jika selama 5 jam pendakian kita menikmati pemandangan alam, merasakan lika-liku perjalanan dan merasakan kekompakan tim, maka sepanjang pendakian itulah kesuksesan kita. Managing Partner sebuah biro hukum di Amerika serikat dikenal sebagai orang yang sangat sukses dan kaya raya. Namun begitu, ketika usianya menginjak 50 tahun, ia merasa sesuatu telah menggerogoti hidupnya. Ia memandang dirinya tak lebih sebagai budak waktu, yang hanya bekerja untuk memenuhi tuntutan para mitra dan kliennya. Keberhasilan baginya adalah sebuah ‘penjara’. Banyak orang sukses lain telah berhasil meraih sasaran yang telah mereka tetapkan sendiri di usia 30-40an. Namun begitu mereka memandang ke depan, mereka seolah kehilangan orientasi sasaran. Mereka seperti merasa kering, seperti merasa ada kepingan yang menghilang dari dirinya. Banyak orang yang merasa sudah mencapai cita-cita dan mencapai puncak kesuksesan, baik materi maupun karier/jabatan, tetapi kemudian merasakan “HAMPA dan KOSONG”. Mereka lalu menyadari bahwa mereka telah menaiki tangga yang keliru, justru setelah mencapai puncak tangga tertingginya! Pada akhirnya mereka baru sadar bahwa uang, harta, kehormatan, harga diri atau kedudukan, bukanlah sesuatu yang mereka cari selama ini. Manusia-manusia sukses tersebut tentu saja merupakan orang yang sangat bermanfaat secara sosial dan ekonomi bagi perusahaannya. Namun begitu, mereka kehilangan makna spiritual bagi dirinya. Spiritual Illness atau spiritual patology ini sering menjangkiti manusia modern. Contohnya presdir Hyundai, yang memilih bunuh diri dengan meloncat dari gedung pencakar langit. David Kellerman, Direktur keuangan Fredie Mac, juga diduga bunuh diri setelah perusahaan pembiayaan perumahan terbesar di AS itu mengalami kebangkrutan. 4. Hubungan IQ, EQ dan SQ dengan dunia pendidikan. Pada awalnya, orang beranggapan bahwa pendidikan hanya memerlukan kualitas IQ tanpa aa peran bearti dari EQ da SQ. Namun melihat perkembangannya, pendidikan yang mengutamakan IQ semata, akan menghasilkan ilmuwan-ilmuwan yang tidak memiliki hati dan mengukur segala sesuatu dengan materi. Selain itu, ilmuwan tersebut tidak mengenal nilai-nilai kebanaran sehingga menggunakan ilmu yang dimilikinya untuk kejahatan dan menguntungkan dirinya sendiri. Namun semenjak ditemukan penyebabnya, maka para pakar pendidikan percaya bahwa ada bagian yang lebih penting untuk mengontrol IQ agar digunakan pada tempat yang semestinya. Bagian itu adalah EQ dan SQ. Seperti yang telah dijelaskan diatas, EQ dan SQ berusaha menjaga agar IQ dapat bekerja pada jalur kebaikan. Bagi para calon pendidik ataupun pendidik, dalam melakukan pembelajaran disekolah harus memperhatikan aspek EQ dan SQ nya. Jangan hanya memperhatikan IQ semata. Diharapkan dengan mengajarkan cara mengaktifkan EQ dan mengajarkan nilai-nilai SQ, maka akan menghasilkan para ilmuwan yang mengerti nilai kebaikan dan menggunakan ilmu yang mereka miliki untuk kebiakan bersama. Tidak hanya pendidik, keluarga terutama orang tua juga harus mengajar anak pada ketiga dimensi diatas, jangan memaksakan anak mendapatkan nilai bagus namun menghalalkan segala cara. Bagi lingkungan pun juga harus demikian, lingkungan jangan mengagumi orang-orang yang memiliki ilmuwan tinggi namun dangkal iman dan taqwa. Pemerintah harus membuat kurikulum dan sistem pendidikan yang akan mengembangkan ke tiga dimensi diatas. Dengan kerjasama tersebut, diharapkan pendidikan yang dilaksanakan benar-benar menghasilkan ilmuwan yang beriman dan bertaqwa. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan IQ adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika dan rasio seseorang. Dengan demikian, hal ini berkaitan dengan keterampilan berbicara, kesadaran akan ruang, kesadaran akan sesuatu yang tampak, dan penguasaan matematika. IQ mengukur kecepatan kita untuk mempelajari hal-hal baru, memusatkan perhatian pada aneka tugas dan latihan, menyimpan dan mengingat kembali informasi objektif, terlibat dalam proses berpikir, bekerja dengan angka, berpikir abstrak dan analitis, serta memecahkan permasalahan dan menerapkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Jika IQ kita tinggi, kita memiliki modal yang sangat baik untuk lulus dari semua jenis ujian dengan gemilang, dan meraih nilai yang tinggi dalam uji IQ. EQ adalah serangkaian kecakapan yang memungkinkan kita melapangkan jalan didunia yang rumit, aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh misteri, dan kepekaan yang penting untuk berfungsi secara efektif setiap hari. Dalam bahasa sehari-hari, EQ disebut sebagai akal sehat. Komponen utama dari kecerdasan sosial ini adalah kesadaran diri, motivasi pribadi, pengaturan diri, empati dan keahlian sosial. letak dari kecerdasan emosional ini adalah pada sistem limbik. EQ lebih pada rasa, Jika kita tidak mampu mengelola aspek rasa kita dengan baik, maka kita tidak akan mampu untuk menggunakan aspek kecerdasan konvensional kita (IQ) secara efektif, karena IQ menentukan sukses hanya 20% dan EQ 80%. Ketika suatu permasalahan atau rangsangan muncul, maka otomatis radar emosi akan merespon, respon ini bisa berbentuk respon positif atau negatif. Tujuan pengendalian diri adalah menjaga posisi emosi pada daerah nol tau netral. Pada daerah ini, SQ akan bekerja secara maksimal dan optimal sehingga menghasilkan perilaku yang tenang. Artinya, apabila ada rangsangan datang dari luar berenergi -5, maka radar hati harus memberikan energi +5, sehingga radar emosi berada pada daerah nol. Seringkali kita menerima rangsangan dari luar sebesar -1, namun radar hati tidak sanggup mengatasinya dengan memberikan +1, maka dampak yang dihasilkan adalah perasaan galau, tidak tenang dan bertindak diluar kewajaran. Begitupun sebaliknya, jika datang rangsangan dari luar sebesar +2, namun radar hati tidak memberikan energi sebesar -2, maka akan timbul rasa ujub dan sombong, perasaan inipun dilarang oleh Alloh swt. Sebenarnya disaat hati tidak sanggup memebrikan energi yang sesuai dengan energi yang datang dari luar, maka disaat itu syetan melancarkan srateginya untuk mengelincirkan manusia. Dalam Alqur’an surah Nuh ayat 15-18 dijelaskan bahwa manusia harus memperhatikan bumi ini, karena setiap waktu perubahan terus berlalu dan bumi ini akan mengarah kepada era digital. Semenjak ditemukannya bilangan binner 0 dan 1, maka semenjak itu perkembangan teknologi dan informasi berkembang pesat. Dampak perkembangan teknologi dan informasi ini mengandung sisi positif dan negatif, sisi positifnya tentu akan memudahkan kerja manusia, bayangkan dahulu disaat belum ada alat telekomunikasi, hubungan jarak jauh hanya bisa lewat surat sehingga memerlukan waktu lama dan biaya yang mahal. Namun sekarang, melalui Hp yang bisa dibawa kemana-mana, kerabat yang jauh disana dapat dipanggil dengan mudah dan waktu yang singkat. Sisi negatifnya juga tidak kala besar, banyak manusia yang mulai meninggalkan nilai-nilai spiritual sehingga didalam dirinya hanya dunia dan materi. Manusia berfikir seolah-olah dengan semua keperluannya dapat terpenuhi dengan teknologi yang ada. Bagi para calon pendidik ataupun pendidik, dalam melakukan pembelajaran disekolah harus memperhatikan aspek EQ dan SQ nya. keluarga terutama orang tua juga harus mengajar anak pada ketiga dimensi diatas, jangan memaksakan anak mendapatkan nilai bagus namun menghalalkan segala cara. Bagi lingkungan pun juga harus demikian, lingkungan jangan mengagumi orang-orang yang memiliki ilmuwan tinggi namun dangkal iman dan taqwa. Pemerintah harus membuat kurikulum dan sistem pendidikan yang akan mengembangkan ke tiga dimensi diatas. Dengan kerjasama tersebut, diharapkan pendidikan yang dilaksanakan benar-benar menghasilkan ilmuwan yang beriman dan bertaqwa. B. Saran Pendidikan yang mementingkan ketiga dimensi IQ, SQ dan EQ tentu akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas, baik dari segi ilum, iman maupun sosial. Indonesia sendiri telah mencanangkan pendidikan berkarakter, pendidikan berkarakter sendiri jelas sekali mengacu kepada pengaktifak unsur IQ, EQ dan SQ dalam diri peserta didik. Namun, pada dunia pendidikan saat sekarang ini, meskipun wacana itu telah bergulir, pelaksanaan dilapangan tidak begitu berjalan secara optimal. Maka diharapkan, setelah memahami betapa pentingnya unsur-unsur ini, maka pelaksanaan pendidikan berkarakter dapan terlaksana dengan baik DAFTAR PUSTAKA Aliasar, Prof.Dr.H.MSc, dkk .2008.Bahan Ajar Pedagogik.Padang Diambil pada tanggal 10 Maret 2012 dari http://edukasi.kompasiana.com/2010/07/21/iq-eq-sq-dan-aq/ pada jam 10.20 wib Diambil pada tanggal 10 Maret 2012 dari http://ilmupsikologi.wordpress.com/2010/02/18/hubungan-antar-sq-eq-dan-iq/ pada jam 10.30 wib Diambil pada tanggal 10 Maret 2012 dari http://makalah-artikel.blogspot.com/2007/11/kecerdasan-emosi-emotional-question_05.html pada jam 10.35 wib Diambil pada tanggal 10 Maret 2012 dari http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1963794-pentingnya-mengelola-emotional-question/#ixzz1ogF0wbEP pada jam 10.40 wib

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar