KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Alhamdulillah puji syukur penulis sampaikan kepada Alloh swt yang telah melimpahkan rahmat dan nikmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “Kebutuhan Sosial Psikologis Remaja” ini dengan semaksimal mungkin. Sholawat dan salam juga penulis doakan kepada baginda Rosululloh SAW yang telah membawa umatnya dari alam jahiliyah kepada alam yang berakhlak mulia.
Tujuan dari pembuatan makalah Perkembangan Peserta Didik dengan materi Kebutuhan Sosial Psikologi Remaja ini adalah untuk membantu para calon peserta didik dalam memahami dan menangani permasalahan yang timbul sewaktu mengajar peserta didiknya. Selain itu, tujuan selanjutnya adalah untuk memenuhi tugas setiap kelompok dalam perkuliahan Perkembangan Peserta Didik.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari terdapat berbagai kekuranag di berbagai aspek. Oleh karena itu penulis meminta saran dan kritik dari pembaca mengenai makalah ini, dengan harapan penulis dapat memperbaiki pada masa yang akan datang.
Wassalam.
Padang, Oktober 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙ i
DAFTAR ISI ∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙ ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙ 1
B. IDENTIFIKASI MASALAH ∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙1
C. PEMBATASAN MASALAH ∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙1
D. RUMUSAN MASALAH ∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kebutuhan dasar manusia ∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙2
B. Jeni-jenis kebutuhan khas remaja ∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙4
C. Konsekuensi jika kebutuhan tidak terpenuhi ∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙6
D. Usaha-usaha yang dilakukan guru dalam pemenuhan kebutuhan remaja ∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙6
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN ∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙8
B. SARAN ∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙8
DAFTAR PUSTAKA ∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙9
Berbagi kebaikan merupakan sesuatu yang disukai oleh Alloh swt. Saya berharap blog ini dapat digunakan oleh semua kalangan yang memerlukan info dari blog ini. Adapun isi blog ini adalah ilmu yang saya dapatkan selama menjalani hidup ini.
Jumat, 16 Desember 2011
Lingkungan pendidikan
A. Pengertian lingkungan pendidikan.
Menurut Sartain (ahli psikologi Amerika), yang dimaksud lingkungan meliputi kondisi dan alam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes.
Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun merupakan faktor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya yang sangat besar terhadap anak didik, sebab bagaimanapun anak tinggal dalam satu lingkungan yang disadari atau tidak pasti akan mempengaruhi anak. Pada dasarnya lingkungan mencakup lingkungan fisik, lingkungan budaya, dan lingkungan sosial.
Lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan(pakaian, keadaan rumah, alat permainan, buku-buku, alat peraga, dll) dinamakan lingkungan pendidikan.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanaya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal.
B. Jenis-jenis limgkungan pendidikan
1. Lingkungan keluarga
Dilihat dari segi anak didik, tampak bahwa anak didik secara tetap hidup di dalam lingkungan masyarakat tertentu tempat ia mengalami pendidikan. Menurut Ki Hajar Dewantara lingkungan tersebut meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat, yang disebut tripusat pendidikan.
Keluargalah yang terutama berperan baik dalam aspek pembudayan maupun penguasaan pengetahuan dan keterampilan. Dengan meningkatnya kebutuhan dan aspirasi anak, maka keluarga pada umumnya tidak mampu memenuhinya. Oleh karena itu, sebagian dari tujuan pendidikan itu akan dicapai melalui jalur pendidikan sekolahataupun jalur pendidikan diluar sekolahlainnya (kursus, kelompok belajar, dsb). Bahkan peran jalur pendidikan sekolah makin lama makin penting, khususnya yang berkaitan dengan aspek pengetahuan dan keterampilan.
Dalam UU RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sisdiknas yang menegaskan fugsi dan peranan keluarga dalam pencapaian tujuan pendidikan yakni membangun manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan.
Keluarga itu tempat pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungkan pendidikan ke arah pembentukan pribadi yang utuh, tidak saja bagi anak-anak tapi juga bagi para remaja.
Disamping pendidikan keluarga itu, keluarga juga seyogyanya ikut mendukung program-program pendidikan yang lainnya (kelompok bermain, penitipan anak, sekolah, kursus, organisasi pemuda. dll). Keikutsertaan keluarga itu dapat pada tahap perencanaan, pemantauan dalam pelaksanaan, maupun dalam evaluasi dan pengembangan, dan dengan berbagi cara (daya, dana, dsb). Dan tidak kalah pentingnya adalah upaya koordinasi dan keserasian antar ketiga pusat pendidikan itu.
2. Lingkungan sekolah
Sekolah merupakan sarana yang sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Tujuan nasional diupayakan pencapaiannya melalui pembangunan nasional, dengan demikian pembangunan nasional di bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur serta memungkinkan warganyamengembangkan diri baik berkenaan dengan aspek jasmaniah maupun rohaniah berdasarkan Pancasila dan UUD 45.
Suatu alternatif yang mungkin dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah antara lain:
a. Pengajaran yang mendidik
Pengalaman belajar itu merupakan suatu yang unik dan kompleks, tetapi dapat dibedakan dalam 3 jenis sesuai dengan pembentukan atau tujuan pendidikan yang akan dicapai :
Pengalaman belajar harus dirancang dan dilaksanakan dalam bentuk yang beranekaragam, seperti:
Dari segi caranya : mendengarkan ceramah, membaca buku, dll.
Dari segi pengolahan pesan : dedukatif, induktif.
Dari segi pengetahuan subjek didik : kelompok belajar, individual.
Latihan untuk sasaran pembentukan keterampilan.
Penghayatan kegiatan.
b. Peningkatan dan pemantapan melaksanakan program bimbingan dan penyuluhan di sekolah, agar program edukatif ini tidak sekedar suplemen tetapi menjadi komplemen yang setar dengan program pengajaran.
c. Pengembangan perpustakaan sekolah menjadi suatu pusat sumber belajar (PSB), yang mengelola bukan hanya bahan pistaka tetapi juga sumber belajar lainnya, baik sumber belajar yang dirancang maupun dimanfaatkan.
d. Peningkatan dan pemantapanprogram pengelolan sekolah.
Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya. Karena itu sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya sebagai berikut;
Ø Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik.
Ø Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.
Ø Sekolah melaqtih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan.
Ø Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya.
3. Lingkungan masyarakat
Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan lingkungan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas.
Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertia-pengertian (pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.
Menurut Koentjaraningrat, paling sedikit dapat dibedakan menjadi 4 tipe sosial budaya. Antara lain:
Tipe masyarakat berdasarkan sistem berkebun yang amat sederhana, hidup dengan berburu dan belum mempunyai kebiasaan menanam padi.
Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau di sawah dengan tanaman pokok padi.
Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan sistem bercocok tanam di ladang atau di sawah dengan tanaman padi.
Tipe masyarakat perkotaan yang mempunyai ciri-ciri pusat pemerintahan dengan sektor perdagangan dan industri yang lemah.
C. Fungsi lingkungan pendidikan.
Adapun fungsi lingkungan pendidikan diantaranya adalah:
1. Tempat pembentukan generasi yang berkualitas dalam semua aspek, kognisi, efeksi, dan psikomotoris.
2. Pendidikan membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanya sebagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal.
3. Tempat pengembangan kemampuan peserta didik.
4. Tempat penyelenggaraan proses pendidikan
5. Memberikan gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur pantas, benar, dan indah untuk kehidupan, yakni memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin di capai oleh segenap kegiatan pendidikan.
6. Membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fsik, sosial, budaya) utamanya sebagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal. Penataan lingkungan pendidikan itu terutamadimaksudkan agar proses pendidikan itu dapat berkembang efektif dan efisien.
D. Pengaruh timbal balik antara ketiga lingungan terhadap perkembangan peserta didik. Lingkungan pendidikan merupakan lingkungan tempat berlangsungnya proses pendidikan yang merupakan bagian dari lingkungan sosial. Lingkungan pendidikan dibagi menjadi tiga yaitu:
Pendidikan yang terjadi dalam lingkungan keluarga berlangsung alamiah dan wajar serta sering disebut pendidikan informal. Pendidikan di sekolah adalah pendidikan yang sengaja dirancang dan dilaksanakan dengan aturan-aturan ketat, sehingga disebut pendidikan formal. Sedangkan pendidikan di lingkungan masyarakat tidak dipersyaratkan berjenjang dan berkesinambungan serta dengan aturan-aturan yang lebih longgar, sehingga disebut pendidikan nonformal.
Di lingkungan keluarga telah diupayakan berbagai hal (perbaikan gizi, permainan edukatif, dsb) yang menjadi landasan pengembangan selanjutnya di sekolahdan masyarakat. Di sekolah dilakukan berbagai hal yang lebih mendekatkan sekolah dengan orang tua siswa. Di lingkungan masyarakat diusahakan berbagai kegiatan/program yang menunjang/melengkapi program keluarga dan sekolah. Dengan kontribusi tripusat pendidikan dan saling melengkapi itu akan memberi peluang mewujudkan sumber daya manusia terdidik yang bermutu.
A. Pembinaan dan Tanggung Jawab Pendidikan Sekolah
1. Meluruskan dan mengarahkan dasar-dasar pendidikan yang baik agar kerugian akibat kesalahan pendidikan awal atau kesalahan sosial yang tidak terkontrol bisa dicegah.
2. Meletakkan dasar-dasar ilmiah dan keterampilan untuk dapat dikembangkan dalam pendidikan lanjutan.
3. Mempersiapkan peserta didik dengan pengetahuan dasar ini untuk menghadapi lingkungan sosialnya.
B. Pembinaan dan Tanggung Jawab Pendidikan Keluarga
Keadaan tiap-tiap keluarga berlain-lainan pula satu sama lain. Ada keluarga yang kaya, ada yang kurang mampu. Ada keluarga yang selalu diliputi oleh suasana tenang dan tentram, ada pula yang selalu gaduh, bercekcok dan sebagainya. Dengan sendirinya, keadaan dalam keluarga yang bermacam-macam coraknya itu akan membawa pengaruh yang berbeda-beda pula terhadap pendidikan anak. Bagaimana cara mendidik yang berlaku dalam keluarga itu, demikianlah cara anak itu mereaksi terhadap lingkungannya.
Jika dalam lingkungan keluarga anak itu dibesarkan dan dididik oleh orang tua/ lingkungan keluarga yang mengetahui akan kehendaknya dan berdasarkan kasih sayang kepadanya, ia akan tumbuh menjadi anak yang tenang dan mudah menyesuaikan diri terhadap orang tua dan anggota-anggota keluarga lainnya, serta terhadap teman-temannya. Wataknya akan berkembang dengan tidak mengalami kesulitan-kesulitan yang besar.
Sebaliknya jika di dalam lingkungan keluarganya ia selalu dianggap dan dikatakan masih kecil dan karena itu belum dapat melakukan sesuatu, kemungkinan besar anak itu akan menjadi orang yang selalu merasa kecil, tidak berdaya, tidak sanggup mengerjakan sesuatu. Ia akan berkembang menjadi orang yang bersifat masa bodoh, kurang mempunyai perasaan harga diri.
Tanggung jawab pendidikan yang perlu disadarkan dan dibina oleh kedua orang tua terhadap anak antara lain sebagai berikut:
a. Memelihara dan membesarkannya.
b. Melindungi dan menjamin kesehatannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniyah dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya.
c. Mendidiknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang berguna bagi kehidupannya, sehingga apabila ia telah dewasa ia mampu berdiri sendiri dam membantu orang lain (hablum minannas) serta melaksanakan kekhalifahannya.
d. Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinya pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Allah.
C. Pembinaan dan Tanggung Jawab Pendidikan Masyarakat
Masyarakat bila dilihat dari konsep sosiologi adalah sekumpulan manusia yang bertempat tinggal dalam suatu kawasan dan saling berinteraksi sesamanya untuk mencapai tujuan. Secara kualitatif dan kuantitatif anggota masyarakat terdiri dari berbagai ragam pendidikan, profesi, keahlian, suku bangsa, kebudayaan, agama, lapisan sosial sehingga menjadi mayarakat yang majemuk. Setiap anggota masyarakat secara tidak langsung telah mengadakan kerjasama dan saling mempengaruhi untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuannya.
Bila dilihat dari konsep pendidikan, masyarakat adalah sekumpulan banyak orang dengan berbagai ragam kualitas diri mulai dari yang tidak berpendidikan sampai kepada yang berpendidikan tinggi. Ia adalah laboratorium besar tempat para anggotanya mengamalkan semua ketrampilan yang dimilikinya. Baiknya kualitas suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas pendidikan para anggotanya. Demikian pula halnya dengan masyarakat bangsa Indonesia. Makin baik pendidikan anggotanya maka makin baik pula kualitas masyarakat seecara keseluruhan.
Dilihat dari lingkungan pendidikan, masyarakat disebut lingkungan pendidikan non formal yang memberikan pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seluruh anggotanya tetapi tidak sistematis. Secara fungsional struktural, masyarakat ikut mempengaruhi terbentuknya sikap sosial para anggotanya, melalui berbagai pengalaman yang berulang kali , mengingat pengalaman yang beraneka ragam, maka setiap sosial anggotanyapun beraneka ragam pula.
Kalau di lembaga pendidikan pendidiknya adalah guru, tapi kalau pendidik dalam masyarakat adalah orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap pendewasaan anggotanya. Dengan demikian para pemimpin resmi maupun tidak resmi adalah pendidik dalam masyarakat.
Pendidik secara fungsional dan struktural di lingkungan masing-masing bertanggung jawab terhadap perilaku dan tingkah laku warganya. Secara konsepsional tanggung jawab pendidikan oleh kedua jenis pemimpin masyarakat ini antara lain adalah mengawasi, menyalurkan, membina dan meningkatkan kualitas anggotanya. Dengan demikan aktivitas masing-masing anggota masyarakat berjalan menurut fungsinya dalam upaya mewujudkan masyarakat yang damai.
Felly elin siswanti 16709
M. ABD. VAN FAYSA 17214
Tirtarahardja, Umar, 2005, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka cipta
Salam, Burhanudin, 1997, Pengantar Pedagogik, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Ihsan,Fuad, 1997, Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Purwanto, Ngalim, 1995, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
http://jawigo.blogspot.com/2010/05/pengaruh-timbal-balik-antara-sekolah.html
Sumber Bacaan: Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
http://fatamorghana.wordpress.com/2008/07/16/bab-v-pengertian-fungsi-dan-jenis-lingkungan-pendidikan/
http://moshimoshi.netne.net/materi/ilmu_pendidikan/bab_4.htm
http://thsumantri.blogspot.com/2011/04/apa-fungsi-lingkungan-pendidikan.html
http://file-hameedfinder.blogspot.com/2008/01/understanding-function-and-kind-of_30.html
Menurut Sartain (ahli psikologi Amerika), yang dimaksud lingkungan meliputi kondisi dan alam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes.
Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun merupakan faktor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya yang sangat besar terhadap anak didik, sebab bagaimanapun anak tinggal dalam satu lingkungan yang disadari atau tidak pasti akan mempengaruhi anak. Pada dasarnya lingkungan mencakup lingkungan fisik, lingkungan budaya, dan lingkungan sosial.
Lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan(pakaian, keadaan rumah, alat permainan, buku-buku, alat peraga, dll) dinamakan lingkungan pendidikan.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanaya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal.
B. Jenis-jenis limgkungan pendidikan
1. Lingkungan keluarga
Dilihat dari segi anak didik, tampak bahwa anak didik secara tetap hidup di dalam lingkungan masyarakat tertentu tempat ia mengalami pendidikan. Menurut Ki Hajar Dewantara lingkungan tersebut meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat, yang disebut tripusat pendidikan.
Keluargalah yang terutama berperan baik dalam aspek pembudayan maupun penguasaan pengetahuan dan keterampilan. Dengan meningkatnya kebutuhan dan aspirasi anak, maka keluarga pada umumnya tidak mampu memenuhinya. Oleh karena itu, sebagian dari tujuan pendidikan itu akan dicapai melalui jalur pendidikan sekolahataupun jalur pendidikan diluar sekolahlainnya (kursus, kelompok belajar, dsb). Bahkan peran jalur pendidikan sekolah makin lama makin penting, khususnya yang berkaitan dengan aspek pengetahuan dan keterampilan.
Dalam UU RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sisdiknas yang menegaskan fugsi dan peranan keluarga dalam pencapaian tujuan pendidikan yakni membangun manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan.
Keluarga itu tempat pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungkan pendidikan ke arah pembentukan pribadi yang utuh, tidak saja bagi anak-anak tapi juga bagi para remaja.
Disamping pendidikan keluarga itu, keluarga juga seyogyanya ikut mendukung program-program pendidikan yang lainnya (kelompok bermain, penitipan anak, sekolah, kursus, organisasi pemuda. dll). Keikutsertaan keluarga itu dapat pada tahap perencanaan, pemantauan dalam pelaksanaan, maupun dalam evaluasi dan pengembangan, dan dengan berbagi cara (daya, dana, dsb). Dan tidak kalah pentingnya adalah upaya koordinasi dan keserasian antar ketiga pusat pendidikan itu.
2. Lingkungan sekolah
Sekolah merupakan sarana yang sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Tujuan nasional diupayakan pencapaiannya melalui pembangunan nasional, dengan demikian pembangunan nasional di bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur serta memungkinkan warganyamengembangkan diri baik berkenaan dengan aspek jasmaniah maupun rohaniah berdasarkan Pancasila dan UUD 45.
Suatu alternatif yang mungkin dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah antara lain:
a. Pengajaran yang mendidik
Pengalaman belajar itu merupakan suatu yang unik dan kompleks, tetapi dapat dibedakan dalam 3 jenis sesuai dengan pembentukan atau tujuan pendidikan yang akan dicapai :
Pengalaman belajar harus dirancang dan dilaksanakan dalam bentuk yang beranekaragam, seperti:
Dari segi caranya : mendengarkan ceramah, membaca buku, dll.
Dari segi pengolahan pesan : dedukatif, induktif.
Dari segi pengetahuan subjek didik : kelompok belajar, individual.
Latihan untuk sasaran pembentukan keterampilan.
Penghayatan kegiatan.
b. Peningkatan dan pemantapan melaksanakan program bimbingan dan penyuluhan di sekolah, agar program edukatif ini tidak sekedar suplemen tetapi menjadi komplemen yang setar dengan program pengajaran.
c. Pengembangan perpustakaan sekolah menjadi suatu pusat sumber belajar (PSB), yang mengelola bukan hanya bahan pistaka tetapi juga sumber belajar lainnya, baik sumber belajar yang dirancang maupun dimanfaatkan.
d. Peningkatan dan pemantapanprogram pengelolan sekolah.
Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya. Karena itu sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya sebagai berikut;
Ø Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik.
Ø Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.
Ø Sekolah melaqtih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan.
Ø Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya.
3. Lingkungan masyarakat
Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan lingkungan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas.
Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertia-pengertian (pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.
Menurut Koentjaraningrat, paling sedikit dapat dibedakan menjadi 4 tipe sosial budaya. Antara lain:
Tipe masyarakat berdasarkan sistem berkebun yang amat sederhana, hidup dengan berburu dan belum mempunyai kebiasaan menanam padi.
Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau di sawah dengan tanaman pokok padi.
Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan sistem bercocok tanam di ladang atau di sawah dengan tanaman padi.
Tipe masyarakat perkotaan yang mempunyai ciri-ciri pusat pemerintahan dengan sektor perdagangan dan industri yang lemah.
C. Fungsi lingkungan pendidikan.
Adapun fungsi lingkungan pendidikan diantaranya adalah:
1. Tempat pembentukan generasi yang berkualitas dalam semua aspek, kognisi, efeksi, dan psikomotoris.
2. Pendidikan membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanya sebagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal.
3. Tempat pengembangan kemampuan peserta didik.
4. Tempat penyelenggaraan proses pendidikan
5. Memberikan gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur pantas, benar, dan indah untuk kehidupan, yakni memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin di capai oleh segenap kegiatan pendidikan.
6. Membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fsik, sosial, budaya) utamanya sebagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal. Penataan lingkungan pendidikan itu terutamadimaksudkan agar proses pendidikan itu dapat berkembang efektif dan efisien.
D. Pengaruh timbal balik antara ketiga lingungan terhadap perkembangan peserta didik. Lingkungan pendidikan merupakan lingkungan tempat berlangsungnya proses pendidikan yang merupakan bagian dari lingkungan sosial. Lingkungan pendidikan dibagi menjadi tiga yaitu:
Pendidikan yang terjadi dalam lingkungan keluarga berlangsung alamiah dan wajar serta sering disebut pendidikan informal. Pendidikan di sekolah adalah pendidikan yang sengaja dirancang dan dilaksanakan dengan aturan-aturan ketat, sehingga disebut pendidikan formal. Sedangkan pendidikan di lingkungan masyarakat tidak dipersyaratkan berjenjang dan berkesinambungan serta dengan aturan-aturan yang lebih longgar, sehingga disebut pendidikan nonformal.
Di lingkungan keluarga telah diupayakan berbagai hal (perbaikan gizi, permainan edukatif, dsb) yang menjadi landasan pengembangan selanjutnya di sekolahdan masyarakat. Di sekolah dilakukan berbagai hal yang lebih mendekatkan sekolah dengan orang tua siswa. Di lingkungan masyarakat diusahakan berbagai kegiatan/program yang menunjang/melengkapi program keluarga dan sekolah. Dengan kontribusi tripusat pendidikan dan saling melengkapi itu akan memberi peluang mewujudkan sumber daya manusia terdidik yang bermutu.
A. Pembinaan dan Tanggung Jawab Pendidikan Sekolah
1. Meluruskan dan mengarahkan dasar-dasar pendidikan yang baik agar kerugian akibat kesalahan pendidikan awal atau kesalahan sosial yang tidak terkontrol bisa dicegah.
2. Meletakkan dasar-dasar ilmiah dan keterampilan untuk dapat dikembangkan dalam pendidikan lanjutan.
3. Mempersiapkan peserta didik dengan pengetahuan dasar ini untuk menghadapi lingkungan sosialnya.
B. Pembinaan dan Tanggung Jawab Pendidikan Keluarga
Keadaan tiap-tiap keluarga berlain-lainan pula satu sama lain. Ada keluarga yang kaya, ada yang kurang mampu. Ada keluarga yang selalu diliputi oleh suasana tenang dan tentram, ada pula yang selalu gaduh, bercekcok dan sebagainya. Dengan sendirinya, keadaan dalam keluarga yang bermacam-macam coraknya itu akan membawa pengaruh yang berbeda-beda pula terhadap pendidikan anak. Bagaimana cara mendidik yang berlaku dalam keluarga itu, demikianlah cara anak itu mereaksi terhadap lingkungannya.
Jika dalam lingkungan keluarga anak itu dibesarkan dan dididik oleh orang tua/ lingkungan keluarga yang mengetahui akan kehendaknya dan berdasarkan kasih sayang kepadanya, ia akan tumbuh menjadi anak yang tenang dan mudah menyesuaikan diri terhadap orang tua dan anggota-anggota keluarga lainnya, serta terhadap teman-temannya. Wataknya akan berkembang dengan tidak mengalami kesulitan-kesulitan yang besar.
Sebaliknya jika di dalam lingkungan keluarganya ia selalu dianggap dan dikatakan masih kecil dan karena itu belum dapat melakukan sesuatu, kemungkinan besar anak itu akan menjadi orang yang selalu merasa kecil, tidak berdaya, tidak sanggup mengerjakan sesuatu. Ia akan berkembang menjadi orang yang bersifat masa bodoh, kurang mempunyai perasaan harga diri.
Tanggung jawab pendidikan yang perlu disadarkan dan dibina oleh kedua orang tua terhadap anak antara lain sebagai berikut:
a. Memelihara dan membesarkannya.
b. Melindungi dan menjamin kesehatannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniyah dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya.
c. Mendidiknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang berguna bagi kehidupannya, sehingga apabila ia telah dewasa ia mampu berdiri sendiri dam membantu orang lain (hablum minannas) serta melaksanakan kekhalifahannya.
d. Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinya pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Allah.
C. Pembinaan dan Tanggung Jawab Pendidikan Masyarakat
Masyarakat bila dilihat dari konsep sosiologi adalah sekumpulan manusia yang bertempat tinggal dalam suatu kawasan dan saling berinteraksi sesamanya untuk mencapai tujuan. Secara kualitatif dan kuantitatif anggota masyarakat terdiri dari berbagai ragam pendidikan, profesi, keahlian, suku bangsa, kebudayaan, agama, lapisan sosial sehingga menjadi mayarakat yang majemuk. Setiap anggota masyarakat secara tidak langsung telah mengadakan kerjasama dan saling mempengaruhi untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuannya.
Bila dilihat dari konsep pendidikan, masyarakat adalah sekumpulan banyak orang dengan berbagai ragam kualitas diri mulai dari yang tidak berpendidikan sampai kepada yang berpendidikan tinggi. Ia adalah laboratorium besar tempat para anggotanya mengamalkan semua ketrampilan yang dimilikinya. Baiknya kualitas suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas pendidikan para anggotanya. Demikian pula halnya dengan masyarakat bangsa Indonesia. Makin baik pendidikan anggotanya maka makin baik pula kualitas masyarakat seecara keseluruhan.
Dilihat dari lingkungan pendidikan, masyarakat disebut lingkungan pendidikan non formal yang memberikan pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seluruh anggotanya tetapi tidak sistematis. Secara fungsional struktural, masyarakat ikut mempengaruhi terbentuknya sikap sosial para anggotanya, melalui berbagai pengalaman yang berulang kali , mengingat pengalaman yang beraneka ragam, maka setiap sosial anggotanyapun beraneka ragam pula.
Kalau di lembaga pendidikan pendidiknya adalah guru, tapi kalau pendidik dalam masyarakat adalah orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap pendewasaan anggotanya. Dengan demikian para pemimpin resmi maupun tidak resmi adalah pendidik dalam masyarakat.
Pendidik secara fungsional dan struktural di lingkungan masing-masing bertanggung jawab terhadap perilaku dan tingkah laku warganya. Secara konsepsional tanggung jawab pendidikan oleh kedua jenis pemimpin masyarakat ini antara lain adalah mengawasi, menyalurkan, membina dan meningkatkan kualitas anggotanya. Dengan demikan aktivitas masing-masing anggota masyarakat berjalan menurut fungsinya dalam upaya mewujudkan masyarakat yang damai.
Felly elin siswanti 16709
M. ABD. VAN FAYSA 17214
Tirtarahardja, Umar, 2005, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka cipta
Salam, Burhanudin, 1997, Pengantar Pedagogik, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Ihsan,Fuad, 1997, Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Purwanto, Ngalim, 1995, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
http://jawigo.blogspot.com/2010/05/pengaruh-timbal-balik-antara-sekolah.html
Sumber Bacaan: Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
http://fatamorghana.wordpress.com/2008/07/16/bab-v-pengertian-fungsi-dan-jenis-lingkungan-pendidikan/
http://moshimoshi.netne.net/materi/ilmu_pendidikan/bab_4.htm
http://thsumantri.blogspot.com/2011/04/apa-fungsi-lingkungan-pendidikan.html
http://file-hameedfinder.blogspot.com/2008/01/understanding-function-and-kind-of_30.html
Jenis terapi buat anak autis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Autis bukanlah istilah yang jarang pada zaman modern kali ini, meskipun datangnya baru pada pertengahan abad ke 20. Bagi orang tua yang mendapatkan anaknya autis, tentu akan merasa kecewa dan bersalah. Namun dibalik kekecewaan tersebut tersimpan asa bahwa anak autis tidak bersifat permanen melainkan bisa dikurangi.
Dengan demikian, maka orang tua langsung mencari langkah-langkah apa saja yang dapat ditempuh agar keautisan anaknya dapat berkurang. Ada beberapa langkah yang data ditempuah dalam mengurangi keautisan anak, diantaranya menggunakan obat-obatan, terapi-terapi, pembelajaran yang kontiniu, bimbingan dan konseling dll.
B. BATASAN MASALAH
Masalah yang penulis angkat pada kali ini adalah berbagai jenis terapi yang pernah dilakukan pada anak autis.
C. RUMUSAN MASALAH
Masalah tersebut tertuang dalam bentuk pertanyaan dibawah ini, diantaranya:
1. Apa yang dimaksud dengan terapi?
2. Apa saja jenis terapi yang telah digunakan pada anak autis?
D. TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memahami jenis-jenis terapi yang bisa diberikan pada anak autis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN TERAPI
Terapi adalah salah satu metoda yang diberikan kepada penderita penyakit tertentu untuk mengurangi dan menghilangkan penyakit tersebut. Terapi bagi anak autis sangat beragam, karena hampis setiap autis memiliki karakteristik masing-masing. Oleh sebab itu langah awal dalam membeikan terapi pada anak autis adalah mengetahui bentuk keautisan anak.
B. JENIS-JENIS TERAPI
Akhir-akhir ini bermunculan berbagai cara / obat / suplemen yang ditawarkan dengan iming-iming bisa menyembuhkan autisme. Kadang-kadang secara gencar dipromosikan oleh si penjual, ada pula cara-cara mengiklankan diri di televisi / radio / tulisan-tulisan.
Para orang tua harus hati-hati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Sayangnya masih banyak yang terkecoh , dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa oleh karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.
Dibawah ini ada 15 jenis terapi yang benar-benar diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.
4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya.
Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya.
6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,
8) Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
9) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).
10) Terapi akupunktur.
Metode tusuk jarum ini diharapkan bisa menstimulasi sistem saraf pada otak hingga dapat bekerja kembali.
11) Terapi musik.
Lewat terapi ini, musik diharapkan memberikan getaran gelombang yang akan berpengaruh terhadap permukaan membran otak. Secara tak langsung, itu akan turut memperbaiki kondisi fisiologis. Harapannya, fungsi indera pendengaran menjadi hidup sekaligus merangsang kemampuan berbicara.
12) Terapi balur.
Banyak yang yakin autisme disebabkan oleh tingginya zat merkuri pada tubuh penderita. Nah, terapi balur ini bertujuan mengurangi kadar merkuri dalam tubuh penyAndang autis. Caranya, menggunakan cuka aren campur bawang yang dilulurkan lewat kulit. Tujuannya melakukan detoksifikasi gas merkuri.
13) Terapi anggota keluarga.
Orangtua harus mendampingi dan memberi perhatian penuh pada sang anak hingga terbentuk ikatan emosional yang kuat. Umumnya, terapi ini merupakan terapi pendukung yang wajib dilakukan untuk semua jenis terapi lain
14) Terapi lumba-lumba.
Telah diketahui oleh dunia medis bahwa di tubuh lumba-lumba teerkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik pendeerita autis. Sebab lumba-lumba mempunyai gelomba sonar (gelombang suara dengan frewkuensi tertentu) yang dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang ada dalam tulang tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien sehingga dapat membentuk keseimbangan antara otak kanan dan kiri. Selain itu, gelombang suara dari lumba-lumba juga dapat meningkatkan neurotransmitter.
LUMBA-lumba termasuk salah satu hewan yang cerdas di dunia. Selain membantu mengarahkan kapal di lautan, para peneliti juga menemukan kalau lumba-lumba bisa membantu mereka yang menderita gangguan saraf, khususnya anak-anak autisme. Terapi lumba-lumba (dolphin therapy) diklaim bisa meningkatkan kemampuan berbicara dan keahlian motorik anak-anak penderita autisme.
Apa itu dolphin therapy? Terapi ini dimulai oleh antropolog Dr Betsy Smith di awal tahun 70-an setelah melihat efek terapis lumba-lumba pada saudaranya yang mengalami gangguan saraf. Selanjutnya terapi ini dikembangkan oleh Dr Nathanson di the Dolphin Human Therapy centre di Florida, AmeriKa. Nathanson mempelajari interaksi antara lumba-lumba dengan anak-anak penderita keterbelakangan mental dan mendapatkan respon baik dengan dibukanya pusat-pusat terapi lumba-lumba lain di seluruh dunia.
Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas sensori anak. Dalam program yang berlangsung di kolam renang dengan lumba-lumba ini, terapis akan membantu anak-anak autisme. Anak-anak akan diminta untuk berenang, menyentuh, memberi makan atau mengelus-elus hewan tersebut. Selanjutnya terapis akan bekerja dan membantu pada area tertentu seperti berbicara, bertingkah dan keahlian motorik. Terapis akan mendisain program sesuai dengan kebutuhan anak.
Terapi lumba-lumba ini tidak bisa menyembuhkan sepenuhnya. Tetapi bisa meredakan beberapa gejala autisme dengan cara menguatkan proses penyembuhan mereka. Para peneliti yang mengambil sampel darah sebelum dan sesudah anak melakukan terapi menemukan adanya perubahan hormon endorphin dan enzim-enzim serta T-cells. Akan tetapi, proses perubahan ini, menurut peneliti, belum diketahui penyebab pastinya.
Penelitian mengenai lumba-lumba dan autisme ini terus dilakuan, tetapi para ilmuwan juga telah menemukan beberapa hipotesis bahwa menyatu dan bermain dengan lumba-lumba akan membangkitkan respon emosional yang mendalam dan memicu pelepasan perasaan dan emosi yang mendalam. para peneliti meyakini, anak-anak lebih responsif terhadap terapi karena mereka bermain di lingkungan yang menyenangkan.
Mereka termotivasi untuk menyelesaikan tugas, mereka gembira sehingga lebih memperhatikan tugas yang diberikan terapis. Selain itu, lumba-lumba dinyatakan bisa merasakan area yang tidak berfungsi penuh dan trauma fisik di tubuh manusia dan mereka memotivasi anak-anak untuk menggunakan area-area ini.
Suara
Dari sisi lain, proses pemulihan sama dengan terapi suara. Ritme dan suara vibrasi membantu membangkitkan perubahan mood. Menurut Dr Cole, ketua Aquathought Foundation, berenang dengan lumba-lumba bisa menciptakan perubahan sel-sel psikologi dan jaringan dalam tubuh.
Lumba-lumba, terang Cole, mempunyai sonar alami. Mereka akan memancarkan gelombang ultrasound untuk menentukan lokasi benda dan untuk berkomunikasi. Bunyi yang dikeluarkan lumba-lumba, terang dia lagi, sangat kuat sehingga bisa menyebabkan pembentukan lubang di struktur molekul-molekul cairan dan jaringan lunak.
Cole meyakini bahwa frekuensi sinyal lumba-lumba berpengaruh kuat terhadap otak manusia dengan cara memodifikasi aktivitas gelombang otak. Hasil tes yang dilakukan pada manusia menunjukkan kalau bunyi ini bisa mengubah frekuensi otak manusia dari beta menjadi alpha.
Bunyi ini membuat kedua belahan otak lebih sinkron sehingga komunikasi antara otak kanan dan kiri menjadi jauh lebih baik. Selain itu, terapi lumba-lumba ini juga dinyatakan bisa membuat perubahan emosi yang kuat, menenangkan anak-anak, meningkatkan kemampuan komunikasi dan konsentrasi, memperbaiki fungsi motorik dan koordinasi, membuat kontak mata, senyum, tawa, dan daya sentuh anak semakin baik, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
15) Terapi Anak Autis dengan Pok Ame-Ame
Hampir semua orang mungkin pernah mendengar lagu di atas. Lagu Pok Ame-Ame ini adalah lagu yang sering dinyanyikan ketika kita masih kecil.
Gerakan sederhana berupa tepukan tangan menjadi hiburan tersendiri bagi balita sehingga dari generasi ke generasi gerakan ini diajarkan turun-temurun.
Selain menghibur, ternyata gerakan dari lagu Pok Ame-Ame dapat menjadi terapi bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus, seperti autis.
Sebagai orang tua yang sangat memperhatikan kebutuhan anaknya, maka anak penderita autis disekolahkan pada sekolah inklusi, yakni sekolah untuk anak dengan kebutuhan khusus, dengan harapan anak mereka mengalami perkembangan dalam perilaku maupun sisi akademik.
Sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, yakni Ahmad Mas Udi, Djamilah Arifiyana, Fauziyah Rakhmawati, Setiya Aggreawan dan Ahmad Rifai menilai, pengenalan konsep terapi mandiri bagi anak autis juga diperlukan untuk mendukung segala materi yang diberikan melalui sekolah inklusi. Hal ini karena anak autis memiliki kesulitan dalam berkonsetrasi dan berkomunikasi dengan lingkungannya, sehingga membuat mereka terkesan menutup diri.
''Kami berupaya membantu para guru sekolah inklusi dengan terapi sederhana, yaitu bernyanyi,'' tutur Mas Udi seperti dikutip dari ITS Online Kamis (26/5/2011).
Bernyanyi dapat membantu anak autis yang kesulitan berkomunikasi untuk mengekspresikan emosi dengan bebas serta melatih kelancaran anak dalam berbicara.
Tidak sembarangan lagu dapat digunakan sebagai terapi ini. Pemilihan lagu Pok Ame-Ame oleh Mas Udi dan kawan-kawan dikarenakan lagu ini begitu familiar. Selain itu gerakan tangan yang bersentuhan ketika menyanyikan lagu ini dapat merangsang saraf motorik anak dan memberikan rasa aman bagi si anak.
Kasih sayang orang tua sangat penting bagi anak autis. Mengasingkan sang anak karena rasa malu bukanlah solusi terbaik karena justru akan menjatuhkan mentalnya.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Terapi adalah salah satu metoda yang diberikan kepada penderita penyakit tertentu untuk mengurangi dan menghilangkan penyakit tersebut. Terapi bagi anak autis sangat beragam, karena hampis setiap autis memiliki karakteristik masing-masing.
Dibawah ini terdapat beberapa terapi bagi anak autis, diantaranya:
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
2) Terapi Wicara
3) Terapi Okupasi
4) Terapi Fisik
5) Terapi Sosial
6) Terapi Bermain
7) Terapi Perilaku.
8) Terapi Perkembangan
9) Terapi Visual
10) Terapi Biomedik
11) Terapi akupunktur.
12) Terapi musik.
13) Terapi balur.
14) Terapi anggota keluarga.
15) Terapi lumba-lumba.
16) Terapi Anak Autis dengan Pok Ame-Ame
B. SARAN
Terapi memang penting bagi anak autis, namun dalam pengobatan anak autis, terapi saja tidak cukup, melainkan harus dibantu oleh obat-obatan yang dapat mengurangi keautisan anak.
Oleh karena itu, bagi orang tua yang mempunyai anak autis, jangan hanya sekedar terapi bagi anak autis melainkan juga adanya obat-obatan dan pembelajaran yang tepat bagi anaknya.
DAFTAR PUSTAKA
Diambil pada tanggal 13 desember dari http://www.autis.info/index.php/terapi-autisme/10-jenis-terapi-autismehttp://gelombangotak.com/terapi_anak_autis.htm
Diambil pada tanggal 13 desember dari http://www.parenting.co.id/archive/web/article/article_detail.asp?catid=2&id=12
Diambil pada tanggal 13 desember dari http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7108959
Diambil pada tanggal 13 desember dari http://distributor4lifeindonesia.wordpress.com/2009/03/13/pengobatan-autis-terapi-autis-dan-ciri-ciri-autis/
Diambil pada tanggal 13 desember dari http://kampus.okezone.com/read/2011/05/26/65/461432/terapi-anak-autis-dengan-pok-ame-ame
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Autis bukanlah istilah yang jarang pada zaman modern kali ini, meskipun datangnya baru pada pertengahan abad ke 20. Bagi orang tua yang mendapatkan anaknya autis, tentu akan merasa kecewa dan bersalah. Namun dibalik kekecewaan tersebut tersimpan asa bahwa anak autis tidak bersifat permanen melainkan bisa dikurangi.
Dengan demikian, maka orang tua langsung mencari langkah-langkah apa saja yang dapat ditempuh agar keautisan anaknya dapat berkurang. Ada beberapa langkah yang data ditempuah dalam mengurangi keautisan anak, diantaranya menggunakan obat-obatan, terapi-terapi, pembelajaran yang kontiniu, bimbingan dan konseling dll.
B. BATASAN MASALAH
Masalah yang penulis angkat pada kali ini adalah berbagai jenis terapi yang pernah dilakukan pada anak autis.
C. RUMUSAN MASALAH
Masalah tersebut tertuang dalam bentuk pertanyaan dibawah ini, diantaranya:
1. Apa yang dimaksud dengan terapi?
2. Apa saja jenis terapi yang telah digunakan pada anak autis?
D. TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memahami jenis-jenis terapi yang bisa diberikan pada anak autis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN TERAPI
Terapi adalah salah satu metoda yang diberikan kepada penderita penyakit tertentu untuk mengurangi dan menghilangkan penyakit tersebut. Terapi bagi anak autis sangat beragam, karena hampis setiap autis memiliki karakteristik masing-masing. Oleh sebab itu langah awal dalam membeikan terapi pada anak autis adalah mengetahui bentuk keautisan anak.
B. JENIS-JENIS TERAPI
Akhir-akhir ini bermunculan berbagai cara / obat / suplemen yang ditawarkan dengan iming-iming bisa menyembuhkan autisme. Kadang-kadang secara gencar dipromosikan oleh si penjual, ada pula cara-cara mengiklankan diri di televisi / radio / tulisan-tulisan.
Para orang tua harus hati-hati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Sayangnya masih banyak yang terkecoh , dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa oleh karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.
Dibawah ini ada 15 jenis terapi yang benar-benar diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.
4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya.
Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya.
6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,
8) Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
9) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).
10) Terapi akupunktur.
Metode tusuk jarum ini diharapkan bisa menstimulasi sistem saraf pada otak hingga dapat bekerja kembali.
11) Terapi musik.
Lewat terapi ini, musik diharapkan memberikan getaran gelombang yang akan berpengaruh terhadap permukaan membran otak. Secara tak langsung, itu akan turut memperbaiki kondisi fisiologis. Harapannya, fungsi indera pendengaran menjadi hidup sekaligus merangsang kemampuan berbicara.
12) Terapi balur.
Banyak yang yakin autisme disebabkan oleh tingginya zat merkuri pada tubuh penderita. Nah, terapi balur ini bertujuan mengurangi kadar merkuri dalam tubuh penyAndang autis. Caranya, menggunakan cuka aren campur bawang yang dilulurkan lewat kulit. Tujuannya melakukan detoksifikasi gas merkuri.
13) Terapi anggota keluarga.
Orangtua harus mendampingi dan memberi perhatian penuh pada sang anak hingga terbentuk ikatan emosional yang kuat. Umumnya, terapi ini merupakan terapi pendukung yang wajib dilakukan untuk semua jenis terapi lain
14) Terapi lumba-lumba.
Telah diketahui oleh dunia medis bahwa di tubuh lumba-lumba teerkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik pendeerita autis. Sebab lumba-lumba mempunyai gelomba sonar (gelombang suara dengan frewkuensi tertentu) yang dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang ada dalam tulang tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien sehingga dapat membentuk keseimbangan antara otak kanan dan kiri. Selain itu, gelombang suara dari lumba-lumba juga dapat meningkatkan neurotransmitter.
LUMBA-lumba termasuk salah satu hewan yang cerdas di dunia. Selain membantu mengarahkan kapal di lautan, para peneliti juga menemukan kalau lumba-lumba bisa membantu mereka yang menderita gangguan saraf, khususnya anak-anak autisme. Terapi lumba-lumba (dolphin therapy) diklaim bisa meningkatkan kemampuan berbicara dan keahlian motorik anak-anak penderita autisme.
Apa itu dolphin therapy? Terapi ini dimulai oleh antropolog Dr Betsy Smith di awal tahun 70-an setelah melihat efek terapis lumba-lumba pada saudaranya yang mengalami gangguan saraf. Selanjutnya terapi ini dikembangkan oleh Dr Nathanson di the Dolphin Human Therapy centre di Florida, AmeriKa. Nathanson mempelajari interaksi antara lumba-lumba dengan anak-anak penderita keterbelakangan mental dan mendapatkan respon baik dengan dibukanya pusat-pusat terapi lumba-lumba lain di seluruh dunia.
Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas sensori anak. Dalam program yang berlangsung di kolam renang dengan lumba-lumba ini, terapis akan membantu anak-anak autisme. Anak-anak akan diminta untuk berenang, menyentuh, memberi makan atau mengelus-elus hewan tersebut. Selanjutnya terapis akan bekerja dan membantu pada area tertentu seperti berbicara, bertingkah dan keahlian motorik. Terapis akan mendisain program sesuai dengan kebutuhan anak.
Terapi lumba-lumba ini tidak bisa menyembuhkan sepenuhnya. Tetapi bisa meredakan beberapa gejala autisme dengan cara menguatkan proses penyembuhan mereka. Para peneliti yang mengambil sampel darah sebelum dan sesudah anak melakukan terapi menemukan adanya perubahan hormon endorphin dan enzim-enzim serta T-cells. Akan tetapi, proses perubahan ini, menurut peneliti, belum diketahui penyebab pastinya.
Penelitian mengenai lumba-lumba dan autisme ini terus dilakuan, tetapi para ilmuwan juga telah menemukan beberapa hipotesis bahwa menyatu dan bermain dengan lumba-lumba akan membangkitkan respon emosional yang mendalam dan memicu pelepasan perasaan dan emosi yang mendalam. para peneliti meyakini, anak-anak lebih responsif terhadap terapi karena mereka bermain di lingkungan yang menyenangkan.
Mereka termotivasi untuk menyelesaikan tugas, mereka gembira sehingga lebih memperhatikan tugas yang diberikan terapis. Selain itu, lumba-lumba dinyatakan bisa merasakan area yang tidak berfungsi penuh dan trauma fisik di tubuh manusia dan mereka memotivasi anak-anak untuk menggunakan area-area ini.
Suara
Dari sisi lain, proses pemulihan sama dengan terapi suara. Ritme dan suara vibrasi membantu membangkitkan perubahan mood. Menurut Dr Cole, ketua Aquathought Foundation, berenang dengan lumba-lumba bisa menciptakan perubahan sel-sel psikologi dan jaringan dalam tubuh.
Lumba-lumba, terang Cole, mempunyai sonar alami. Mereka akan memancarkan gelombang ultrasound untuk menentukan lokasi benda dan untuk berkomunikasi. Bunyi yang dikeluarkan lumba-lumba, terang dia lagi, sangat kuat sehingga bisa menyebabkan pembentukan lubang di struktur molekul-molekul cairan dan jaringan lunak.
Cole meyakini bahwa frekuensi sinyal lumba-lumba berpengaruh kuat terhadap otak manusia dengan cara memodifikasi aktivitas gelombang otak. Hasil tes yang dilakukan pada manusia menunjukkan kalau bunyi ini bisa mengubah frekuensi otak manusia dari beta menjadi alpha.
Bunyi ini membuat kedua belahan otak lebih sinkron sehingga komunikasi antara otak kanan dan kiri menjadi jauh lebih baik. Selain itu, terapi lumba-lumba ini juga dinyatakan bisa membuat perubahan emosi yang kuat, menenangkan anak-anak, meningkatkan kemampuan komunikasi dan konsentrasi, memperbaiki fungsi motorik dan koordinasi, membuat kontak mata, senyum, tawa, dan daya sentuh anak semakin baik, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
15) Terapi Anak Autis dengan Pok Ame-Ame
Hampir semua orang mungkin pernah mendengar lagu di atas. Lagu Pok Ame-Ame ini adalah lagu yang sering dinyanyikan ketika kita masih kecil.
Gerakan sederhana berupa tepukan tangan menjadi hiburan tersendiri bagi balita sehingga dari generasi ke generasi gerakan ini diajarkan turun-temurun.
Selain menghibur, ternyata gerakan dari lagu Pok Ame-Ame dapat menjadi terapi bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus, seperti autis.
Sebagai orang tua yang sangat memperhatikan kebutuhan anaknya, maka anak penderita autis disekolahkan pada sekolah inklusi, yakni sekolah untuk anak dengan kebutuhan khusus, dengan harapan anak mereka mengalami perkembangan dalam perilaku maupun sisi akademik.
Sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, yakni Ahmad Mas Udi, Djamilah Arifiyana, Fauziyah Rakhmawati, Setiya Aggreawan dan Ahmad Rifai menilai, pengenalan konsep terapi mandiri bagi anak autis juga diperlukan untuk mendukung segala materi yang diberikan melalui sekolah inklusi. Hal ini karena anak autis memiliki kesulitan dalam berkonsetrasi dan berkomunikasi dengan lingkungannya, sehingga membuat mereka terkesan menutup diri.
''Kami berupaya membantu para guru sekolah inklusi dengan terapi sederhana, yaitu bernyanyi,'' tutur Mas Udi seperti dikutip dari ITS Online Kamis (26/5/2011).
Bernyanyi dapat membantu anak autis yang kesulitan berkomunikasi untuk mengekspresikan emosi dengan bebas serta melatih kelancaran anak dalam berbicara.
Tidak sembarangan lagu dapat digunakan sebagai terapi ini. Pemilihan lagu Pok Ame-Ame oleh Mas Udi dan kawan-kawan dikarenakan lagu ini begitu familiar. Selain itu gerakan tangan yang bersentuhan ketika menyanyikan lagu ini dapat merangsang saraf motorik anak dan memberikan rasa aman bagi si anak.
Kasih sayang orang tua sangat penting bagi anak autis. Mengasingkan sang anak karena rasa malu bukanlah solusi terbaik karena justru akan menjatuhkan mentalnya.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Terapi adalah salah satu metoda yang diberikan kepada penderita penyakit tertentu untuk mengurangi dan menghilangkan penyakit tersebut. Terapi bagi anak autis sangat beragam, karena hampis setiap autis memiliki karakteristik masing-masing.
Dibawah ini terdapat beberapa terapi bagi anak autis, diantaranya:
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
2) Terapi Wicara
3) Terapi Okupasi
4) Terapi Fisik
5) Terapi Sosial
6) Terapi Bermain
7) Terapi Perilaku.
8) Terapi Perkembangan
9) Terapi Visual
10) Terapi Biomedik
11) Terapi akupunktur.
12) Terapi musik.
13) Terapi balur.
14) Terapi anggota keluarga.
15) Terapi lumba-lumba.
16) Terapi Anak Autis dengan Pok Ame-Ame
B. SARAN
Terapi memang penting bagi anak autis, namun dalam pengobatan anak autis, terapi saja tidak cukup, melainkan harus dibantu oleh obat-obatan yang dapat mengurangi keautisan anak.
Oleh karena itu, bagi orang tua yang mempunyai anak autis, jangan hanya sekedar terapi bagi anak autis melainkan juga adanya obat-obatan dan pembelajaran yang tepat bagi anaknya.
DAFTAR PUSTAKA
Diambil pada tanggal 13 desember dari http://www.autis.info/index.php/terapi-autisme/10-jenis-terapi-autismehttp://gelombangotak.com/terapi_anak_autis.htm
Diambil pada tanggal 13 desember dari http://www.parenting.co.id/archive/web/article/article_detail.asp?catid=2&id=12
Diambil pada tanggal 13 desember dari http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7108959
Diambil pada tanggal 13 desember dari http://distributor4lifeindonesia.wordpress.com/2009/03/13/pengobatan-autis-terapi-autis-dan-ciri-ciri-autis/
Diambil pada tanggal 13 desember dari http://kampus.okezone.com/read/2011/05/26/65/461432/terapi-anak-autis-dengan-pok-ame-ame
Hubungan social anak autis x dengan keluarga.
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Autisme adalah salah satu gangguan yang tejadi pada saraf neurobiologis didalam otak sehingga mengakibatkan anak susah untuk menjalin hubungan social, komunikasi dan gangguan perilaku. Setiap anak autis memilki karakteristik masing-masing sehingga belum dapat mengelompokkan mereka ke dalam bagian tertentu.
Ke tiga gangguan yang terjadi pada anak autis baik gangguan hubungan social, komunikasi dan perilaku saling berkaitan satu sama lain meskipun ada beberapa jenis anak autis yang tidak memiliki semua aspek tersebut. Hubungan social sangat berkaitan erat dengan komunikasi, bagaimana hubungan akan terjalin sedangkan komunikasi tidak berjalan dengan baik, begitupun sebaliknya. Terkadang keinginan anak akan sesuatu, namun tidak bisa mengungkapkannnya maka anak autis sering mengungkapkannnya pada perilaku-perilaku yang aneh.
Hubungan social mencakup hubungan dengan masyarakat, keluarga dan sekolah. Bagi anak autis ringan, mungkin mereka bisa menjalin hubungan yang baik dengan orang tua, tapi belum tentu pada bagian social lainnya.
B. BATASAN MASALAH
Permasalahan yang akan penulis angkat adalah hubungan social anak autis x dengan keluarga.
C. RUMUSAN MASALAH
Pertanyaan yang timbul dari permasalahan diatas adalah:
1. Bagaimana hubungan social autis x dengan orang tua?
2. Bagaimana hubungan social autis x dengan kakak dan adik?
3. Apakah anak mau diajak bermain dengan kakak dan adiknya?
D. TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah:
1. Mengetahui hubungan social autis x dengan orang tua.
2. Mengetahui hubungan social autis x dengan kakak dan adik.
3. Mengetahui respon autis x ketika diajak bermain
BAB II
PEMBAHASAN
A. KAJIAN TEORI
INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS
Perilaku sosial memungkinkan seorang individu untuk berhubungan danberinteraksi dalam seting sosial. Tinjauan tentang kesulitan (deficits) sosial pada anakanak autis baru-baru ini muncul
Anak-anak autis yang nonverbal telah diketahui bahwa mereka mengabaikan (ignore) orang lain, memperlihatkan masalah umum dalam bergaul dengan orang lain secara sosial. Ekspresi sosial mereka terbatas pada ekspresi emosi-emosi yang ekstrim, seperti menjerit, menangis atau tertawa yang sedalam-dalamnya. Anak-anak autis tidak menyukai perubahan sosial atau gangguan dalam rutinitas sehari-hari dan lebih suka apabila dunia mereka tetap sama. Apabila terjadi perubahan mereka akan lebih mudah marah, contoh: mereka akan marah apabila mengambil rute pulang dari sekolah yang berbeda dari yang biasa dilewati, atau posisi furnitur di dalam kelas berubah dari semula.
Anak-anak autis sering memperlihatkan perilaku yang merangsang dirinya sendiri (self-stimulating) seperti mengepak-ngepakkan tangan (hand flapping) mengayun-ayun tangan ke depan dan kebelakang, membuat suara-suara yang tetap (ngoceh), atau menyakiti diri sendiri (self-inflicting injuries) seperti menggaruk-garuk, kadang sampai terluka, menusuk-nusuk. Perilaku merangsang diri sendiri (self-stimulating) lebih sering terjadi pada waktu yang berbeda dari kehidupan anak atau selama situasi sosial berbeda.
Perilaku ini lebih sering lagi terjadi pada saat anak autis ditinggal sendiri atau sedang sendirian daripada waktu dia sibuk dengan tugas-tugas yang harus dikerjakannya, dan berkurang setelah anak belajar untuk berkomunikasi.
Interaksi sosial merupakan kesulitan yang nyata bagi anaka autis untuk melakukan transaksi sosial dengan lingkungannya. Hanya beberapa minggu bayi mulai dapat mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dekatnya. Bayi mulai menunjukkan ketertarikan dalam mengeksplorasi sesuatu yang diberikan dam memulai proses eksplorasi dengan menyentuh, menjatuhkan, menendang, melempar, menarik-narik atau dengan menghisap-hisap sesuatu. Hal ini merupakan bagian proses perkembangan awal dalam memahami dunia sekitarnya. Bayi juga memulai membuka proses untuk menginterpretasi ekspresi muka. Bayi mulai merespon dengan khusus dari ekspresi ibunya dan mulai belajar membaca perasaan ibu mereka. Bayi akan merespon secara sama dengan perasaan yang sama yang dibawa oleh ibunya. Ketika ibu terlihat tidak senang hatinya, biasanya bayi akan merespon dengan menangis. Tetapi sebaliknya bila ibu menunjukkan kebahagiaannya, maka bayi akan merespon dengan senang seperti mengerak-gerakkan kedua kakinya, kedua tangannya dan tentu menunjukkan senyum kebahagiaan. Sungguh niala yang sangat fantastic. Dana momen ini kebanyakan tidak ditemukan pada bayi dengan gejala autis.
Pada bayi dengan gangguan autis memiliki kesulitan dalam melakukan proses seperti gambaran bayi pada umumnya. Bayi autis kurang mampu mempertahankan kontak “dingin: terhadap ekspresi, sulit untuk terlibat dalam ekspresi emosional :membaca” ekspresi muka ibunya dan menafsikan nilai hubungan emosionalnya.
Dimensi perkembangan sosial memiliki signifikasi yang luar biasa pada dunia autis. Dalam dimensi ini jelas sekali bagaimana level perkembangan sosial anak autis mempengaruhi aspek dalam belajar dan perilaku. Hal ini bukanlah merupakan suatu kekurangan sederhana yang menghalangi bagi mereka untuk menjadi lebih sociable, tetapi dengan keadaan ini pada umumnya mereka semakin terhalangi dalam proses tranksaksi sosial, dimana merupakan karangka untuk memandang dunia yang ada.
a. Tanda Awal Keterasingan Sosial
Anak-anak autis seringkali ditandai dengan perilaku yang suka mengasingkan diri/menyendiri, meskipun dalam ruangan yang penuh dengan teman sebayanya ataupun anggota keluarganya. Sebagian besar dari laporan orang tua yang memiliki memiliki anak autis mengatakan bahwa anak mereka lebih memilih aktivitas sendiri. Ketika orang tua mengajaknya untuk melakukan permainan selayaknya anak-anak pada umumnya misalnya main bola, mobil-mobilan atau bernyanyi sambil bertepuk tangan, anak autis kesulitan untuk bergabung dan terlibat didalamnya.
b. Tidak Mampu Berteman Dengan Teman Sebayanya
Anak-anak yang tidak dapat terlibat dalam bermain sosial maka mereka tidak akan memiliki hubungan pertemanan dengan teman seusianya. Ketidakmampuan anak dalam bermain dengan teman sebayanya merupakan isyarat yang muncul bagi orang tua untuk melihat sesuatu yang ada pada anaknya. Kesulitan untuk menjalin hubungan dengan teman sebayanya merupakan hal yang paling mencolok sebagai cirri anak autis dimana ketika anak autis digabingkan dengan teman seusianya, maka ada beberapa kemungkinan perilaku sosial yang salah atau ganjil. Anak autis tidak akan bergabung dalam aktivitas sosial dan memilih terpisah dari kelompok temannya atau ia tetap berada dalam kelompok tetapi keberadaannya tidak terlibat dalam atmosfer kelompok.
c. Theory Of Mind
Theory of Mind (TOM) diperkenalkan pertama kali oleh Premack & Woodruff tahun 1978. Mereka mengatakan bahwa TOM merupakan pemahaman teoristik yang mengacu pada gambaran tentang beliefe (ide dan pemikiran) dan desires (harapan) orang-orang dewasa atau anak-anak terhadap orang lain, yang artinya dapat menjelaskan perilaku orang lain. TOM dapat dikatakan sebagai hubungan antara “berfikir tentang pikitan”.
Secara lebih luas TOM berkaitan dengan sosial kognitif pada anak autis didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai kesulitan memulai, mempertahankan dan mengakhiri interaksi sosial dengan tepat. Memahami pikiran dan perasaan orang lain dan merasakan dampak dari perilaku orang lain.
d. Proses Sosial Spesifik Anak Autis
Anak autis memiliki minat yang sangat terbatas pada lingkungan sosial dimana mereka lebih tertarik dengan benda-benda mati dilingkungannya. Mereka mungkin tidak mengenali orang tuanya, tetapi mereka lebih menyukai memperhatikan barang-barang yang disusun dala ruangan. Kanner mengatakan bahwa disfungsi sosial dan respon yang tak biasa menjadi cirri esensial dari sindrom ini.
Anak autis mungkin tertarik untuk berinteraksi sosial, tetapi gaya sosial interaksinya aneh dan eksentrik dan memiliki kapasitas untuk memahami interksi sosial atau mengantisipasi pernyataan emosional orang lain cesara terbatas, tujuan dan motivasi untuk membuat hal itun sangat sulit untuk bernegosiasi dalam suasana interaksi sosial.
Ciri-ciri gangguan social
1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2. Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3. Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
1. Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2. Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3. Bahasa aneh dan diulang-ulang/stereotip
4. Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi sosial
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
1. Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
2. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
3. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda
Orang tua juga memiliki peranan utama dalam terapi efektif, karena meskipun telah banyak tersedia obat-obatan yang mendukung pemulihan anak autis, pendekatan secara terapeutik masih merupakan cara penatalakasanaan yang dianjurkan. Melalui terapi efektif, kemampuan bicara, interaksi, serta perubahan pola tingkah laku yang ritualistik dapat dialihkan menjadi lebih terstruktur dan berjadwal. Bersama dengan guru dan ahli terapi, orang tua mengidentifikasi kebiasaan-kebiasaan anak yang harus diubah dan kemampuan-kemampuan apa yang harus diajarkan lagi kepada anak autis.
Maka sudah jelas, jika seorang anak didiagnosis menderita autisme, orang tua tidak boleh menjadi pihak yang dipersalahkan. Autisme dapat disebabkan berbagai macam faktor, terutama genetik, tetapi sama sekali tidak berhubungan dengan pola asuh orang tua. Orang tua justru merupakan pihak yang harus diberi pengertian, dan diarahkan untuk mengambil peran terpenting, bahkan sejak proses diagnosis hingga pengobatan dan terapi untuk kesembuhan yang optimal bagi anak autis.
. Kemampuan dalam interaksi sosial yang terwujud dalam minimal dua dari kriteria berikut :
1) Ditandai dengan adanya penurunan yang cukup jelas dalam penggunaan perilaku non verbal seperti kontak mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan sikap dalam mengatur interaksi sosial.
2) Kegagalan dalam perkembangan hubungan dengan anak-anak sebaya sesuai dengan tahap perkembangan.
3) Tidak bisa secara spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau pencapaian bersama orang lain secara spontan (seperti tidak menunjukan, membawa atau menunjukan objek luar perhatian.
4) Tidak adanya timbal balik sosial atau emosional.
B. FAKTA DILAPANGAN
1. Hubungan social x dengan orang tua.
Orang tua merupakan salah satu bagian terpenting dalam hubungan social anak autis, anak akan belajar berinteraksi dengan orang tua sebelum mereka turun kelapangan, namun berbeda dengan anak autis, orang tua harus berupaya mengajarkan cara berinteraksi dengan lingkungan.
Penulis melihat hubungan autis x dengan orang tua tergantung keadaan dan suasan hati autis x, jika autis x dalam keadaan senang, maka autis x akan menjawab setiap pertanyaan dari orang tua, namun jika sedang sedih atau marah, maka autis x akan mengurung diri dikamar tanpa au mengiyakan perkataan orang tuanya.
Meskipun demikian, penulis menemukan bahwa hubungan yang tercipta antara autis x dengan keluarga berjalan dengan lancar dan hangat. Meskipun autis x tidak bisa menjalin kontak mata.
2. Hubungan social x dengan kakak dan adik.
Autis x memiliki keluarga yang besar, ia mempunyai saudara 6 dan ia sendiri anak ke empat. Kakak ke dua autis x juga mengalami kelainan ADHD. Jika penulis perhatikan, hubungan social mereka berjalan seperti apa adanya, karena autis x tidak mampu berkomunikasi dengan baik, maka kebanyakan kakak dan adiknya yang mengajak autis x untuk berbicara.
Meskipun demikian, adik autis x juga sering menjahili autis x dengan permainan yang mebuat autis x kesal dan tidak jarang autis x mengurung diri karena perilaku adk-adiknya tadi.
3. Respon autis x ketika diajak bermain.
Autis x sangat susah untuk bermain, mereka lebih suka untuk bermain sendir seperti main game pada hp. Disaat itu ia memilki ekspresi tersendiri saat ia mengalami kekalahan dan kemenangan. Namun bagaiman jika diajak bermain? Autis x akan mengiyakan bermain tersebut jika ia senangi dan suasana hatinya sedang baik, namun ia akan menolak jika permainan tidak menyenangkan dan membuat hatinya kesal.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Perilaku sosial memungkinkan seorang individu untuk berhubungan danberinteraksi dalam seting sosial. Tinjauan tentang kesulitan (deficits) sosial pada anakanak autis baru-baru ini muncul
1. Tanda Awal Keterasingan Sosial
2. Tidak Mampu Berteman Dengan Teman Sebayanya
3. Theory Of Mind
4. Proses Sosial Spesifik Anak Autis
Ciri-ciri gangguan social lainnya adalah
1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2. Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3. Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
1. Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2. Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3. Bahasa aneh dan diulang-ulang/stereotip
4. Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
B. SARAN
Dalam memberikan pelatihan hubungan social bagi autis, tidak cukup dirumah saja, melainkan juga diharapkan dapat terjalain diluar rumah. Harus ada keberanian dari orang tua untuk membawa anak autis untuk berinteraksi dengan dunia luar.
Selain itu, orang tua harus peka terhadap perilaku adik-adik autis x terhadap dirinya yang suka menjahilinya. Perlu pengerian bagi dik-adinya bahwa autis x mengalami kekurangan yang seharusnya tidak diganggu melainkan dibantu.
C. BUKTI PENUNJANG
DAFTAR PUSTAKA
http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/data.html. Diakses pada tanggal 12 DESEMBER 2011, 07:55 WIB.
http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/facts.html. Diakses pada tanggal 12 DESEMBER 2011, 07:55 WIB.
http://www.emedicinehealth.com/autism/article_em.htm#Autism%20Overview. Diakses pada tanggal 12 DESEMBER 2011, 07:15 WIB.
http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme. Diakses pada tanggal 12 DESEMBER 2011, 11:25 WIB.
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Autisme adalah salah satu gangguan yang tejadi pada saraf neurobiologis didalam otak sehingga mengakibatkan anak susah untuk menjalin hubungan social, komunikasi dan gangguan perilaku. Setiap anak autis memilki karakteristik masing-masing sehingga belum dapat mengelompokkan mereka ke dalam bagian tertentu.
Ke tiga gangguan yang terjadi pada anak autis baik gangguan hubungan social, komunikasi dan perilaku saling berkaitan satu sama lain meskipun ada beberapa jenis anak autis yang tidak memiliki semua aspek tersebut. Hubungan social sangat berkaitan erat dengan komunikasi, bagaimana hubungan akan terjalin sedangkan komunikasi tidak berjalan dengan baik, begitupun sebaliknya. Terkadang keinginan anak akan sesuatu, namun tidak bisa mengungkapkannnya maka anak autis sering mengungkapkannnya pada perilaku-perilaku yang aneh.
Hubungan social mencakup hubungan dengan masyarakat, keluarga dan sekolah. Bagi anak autis ringan, mungkin mereka bisa menjalin hubungan yang baik dengan orang tua, tapi belum tentu pada bagian social lainnya.
B. BATASAN MASALAH
Permasalahan yang akan penulis angkat adalah hubungan social anak autis x dengan keluarga.
C. RUMUSAN MASALAH
Pertanyaan yang timbul dari permasalahan diatas adalah:
1. Bagaimana hubungan social autis x dengan orang tua?
2. Bagaimana hubungan social autis x dengan kakak dan adik?
3. Apakah anak mau diajak bermain dengan kakak dan adiknya?
D. TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah:
1. Mengetahui hubungan social autis x dengan orang tua.
2. Mengetahui hubungan social autis x dengan kakak dan adik.
3. Mengetahui respon autis x ketika diajak bermain
BAB II
PEMBAHASAN
A. KAJIAN TEORI
INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS
Perilaku sosial memungkinkan seorang individu untuk berhubungan danberinteraksi dalam seting sosial. Tinjauan tentang kesulitan (deficits) sosial pada anakanak autis baru-baru ini muncul
Anak-anak autis yang nonverbal telah diketahui bahwa mereka mengabaikan (ignore) orang lain, memperlihatkan masalah umum dalam bergaul dengan orang lain secara sosial. Ekspresi sosial mereka terbatas pada ekspresi emosi-emosi yang ekstrim, seperti menjerit, menangis atau tertawa yang sedalam-dalamnya. Anak-anak autis tidak menyukai perubahan sosial atau gangguan dalam rutinitas sehari-hari dan lebih suka apabila dunia mereka tetap sama. Apabila terjadi perubahan mereka akan lebih mudah marah, contoh: mereka akan marah apabila mengambil rute pulang dari sekolah yang berbeda dari yang biasa dilewati, atau posisi furnitur di dalam kelas berubah dari semula.
Anak-anak autis sering memperlihatkan perilaku yang merangsang dirinya sendiri (self-stimulating) seperti mengepak-ngepakkan tangan (hand flapping) mengayun-ayun tangan ke depan dan kebelakang, membuat suara-suara yang tetap (ngoceh), atau menyakiti diri sendiri (self-inflicting injuries) seperti menggaruk-garuk, kadang sampai terluka, menusuk-nusuk. Perilaku merangsang diri sendiri (self-stimulating) lebih sering terjadi pada waktu yang berbeda dari kehidupan anak atau selama situasi sosial berbeda.
Perilaku ini lebih sering lagi terjadi pada saat anak autis ditinggal sendiri atau sedang sendirian daripada waktu dia sibuk dengan tugas-tugas yang harus dikerjakannya, dan berkurang setelah anak belajar untuk berkomunikasi.
Interaksi sosial merupakan kesulitan yang nyata bagi anaka autis untuk melakukan transaksi sosial dengan lingkungannya. Hanya beberapa minggu bayi mulai dapat mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan dekatnya. Bayi mulai menunjukkan ketertarikan dalam mengeksplorasi sesuatu yang diberikan dam memulai proses eksplorasi dengan menyentuh, menjatuhkan, menendang, melempar, menarik-narik atau dengan menghisap-hisap sesuatu. Hal ini merupakan bagian proses perkembangan awal dalam memahami dunia sekitarnya. Bayi juga memulai membuka proses untuk menginterpretasi ekspresi muka. Bayi mulai merespon dengan khusus dari ekspresi ibunya dan mulai belajar membaca perasaan ibu mereka. Bayi akan merespon secara sama dengan perasaan yang sama yang dibawa oleh ibunya. Ketika ibu terlihat tidak senang hatinya, biasanya bayi akan merespon dengan menangis. Tetapi sebaliknya bila ibu menunjukkan kebahagiaannya, maka bayi akan merespon dengan senang seperti mengerak-gerakkan kedua kakinya, kedua tangannya dan tentu menunjukkan senyum kebahagiaan. Sungguh niala yang sangat fantastic. Dana momen ini kebanyakan tidak ditemukan pada bayi dengan gejala autis.
Pada bayi dengan gangguan autis memiliki kesulitan dalam melakukan proses seperti gambaran bayi pada umumnya. Bayi autis kurang mampu mempertahankan kontak “dingin: terhadap ekspresi, sulit untuk terlibat dalam ekspresi emosional :membaca” ekspresi muka ibunya dan menafsikan nilai hubungan emosionalnya.
Dimensi perkembangan sosial memiliki signifikasi yang luar biasa pada dunia autis. Dalam dimensi ini jelas sekali bagaimana level perkembangan sosial anak autis mempengaruhi aspek dalam belajar dan perilaku. Hal ini bukanlah merupakan suatu kekurangan sederhana yang menghalangi bagi mereka untuk menjadi lebih sociable, tetapi dengan keadaan ini pada umumnya mereka semakin terhalangi dalam proses tranksaksi sosial, dimana merupakan karangka untuk memandang dunia yang ada.
a. Tanda Awal Keterasingan Sosial
Anak-anak autis seringkali ditandai dengan perilaku yang suka mengasingkan diri/menyendiri, meskipun dalam ruangan yang penuh dengan teman sebayanya ataupun anggota keluarganya. Sebagian besar dari laporan orang tua yang memiliki memiliki anak autis mengatakan bahwa anak mereka lebih memilih aktivitas sendiri. Ketika orang tua mengajaknya untuk melakukan permainan selayaknya anak-anak pada umumnya misalnya main bola, mobil-mobilan atau bernyanyi sambil bertepuk tangan, anak autis kesulitan untuk bergabung dan terlibat didalamnya.
b. Tidak Mampu Berteman Dengan Teman Sebayanya
Anak-anak yang tidak dapat terlibat dalam bermain sosial maka mereka tidak akan memiliki hubungan pertemanan dengan teman seusianya. Ketidakmampuan anak dalam bermain dengan teman sebayanya merupakan isyarat yang muncul bagi orang tua untuk melihat sesuatu yang ada pada anaknya. Kesulitan untuk menjalin hubungan dengan teman sebayanya merupakan hal yang paling mencolok sebagai cirri anak autis dimana ketika anak autis digabingkan dengan teman seusianya, maka ada beberapa kemungkinan perilaku sosial yang salah atau ganjil. Anak autis tidak akan bergabung dalam aktivitas sosial dan memilih terpisah dari kelompok temannya atau ia tetap berada dalam kelompok tetapi keberadaannya tidak terlibat dalam atmosfer kelompok.
c. Theory Of Mind
Theory of Mind (TOM) diperkenalkan pertama kali oleh Premack & Woodruff tahun 1978. Mereka mengatakan bahwa TOM merupakan pemahaman teoristik yang mengacu pada gambaran tentang beliefe (ide dan pemikiran) dan desires (harapan) orang-orang dewasa atau anak-anak terhadap orang lain, yang artinya dapat menjelaskan perilaku orang lain. TOM dapat dikatakan sebagai hubungan antara “berfikir tentang pikitan”.
Secara lebih luas TOM berkaitan dengan sosial kognitif pada anak autis didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai kesulitan memulai, mempertahankan dan mengakhiri interaksi sosial dengan tepat. Memahami pikiran dan perasaan orang lain dan merasakan dampak dari perilaku orang lain.
d. Proses Sosial Spesifik Anak Autis
Anak autis memiliki minat yang sangat terbatas pada lingkungan sosial dimana mereka lebih tertarik dengan benda-benda mati dilingkungannya. Mereka mungkin tidak mengenali orang tuanya, tetapi mereka lebih menyukai memperhatikan barang-barang yang disusun dala ruangan. Kanner mengatakan bahwa disfungsi sosial dan respon yang tak biasa menjadi cirri esensial dari sindrom ini.
Anak autis mungkin tertarik untuk berinteraksi sosial, tetapi gaya sosial interaksinya aneh dan eksentrik dan memiliki kapasitas untuk memahami interksi sosial atau mengantisipasi pernyataan emosional orang lain cesara terbatas, tujuan dan motivasi untuk membuat hal itun sangat sulit untuk bernegosiasi dalam suasana interaksi sosial.
Ciri-ciri gangguan social
1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2. Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3. Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
1. Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2. Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3. Bahasa aneh dan diulang-ulang/stereotip
4. Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi sosial
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
1. Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
2. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
3. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda
Orang tua juga memiliki peranan utama dalam terapi efektif, karena meskipun telah banyak tersedia obat-obatan yang mendukung pemulihan anak autis, pendekatan secara terapeutik masih merupakan cara penatalakasanaan yang dianjurkan. Melalui terapi efektif, kemampuan bicara, interaksi, serta perubahan pola tingkah laku yang ritualistik dapat dialihkan menjadi lebih terstruktur dan berjadwal. Bersama dengan guru dan ahli terapi, orang tua mengidentifikasi kebiasaan-kebiasaan anak yang harus diubah dan kemampuan-kemampuan apa yang harus diajarkan lagi kepada anak autis.
Maka sudah jelas, jika seorang anak didiagnosis menderita autisme, orang tua tidak boleh menjadi pihak yang dipersalahkan. Autisme dapat disebabkan berbagai macam faktor, terutama genetik, tetapi sama sekali tidak berhubungan dengan pola asuh orang tua. Orang tua justru merupakan pihak yang harus diberi pengertian, dan diarahkan untuk mengambil peran terpenting, bahkan sejak proses diagnosis hingga pengobatan dan terapi untuk kesembuhan yang optimal bagi anak autis.
. Kemampuan dalam interaksi sosial yang terwujud dalam minimal dua dari kriteria berikut :
1) Ditandai dengan adanya penurunan yang cukup jelas dalam penggunaan perilaku non verbal seperti kontak mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan sikap dalam mengatur interaksi sosial.
2) Kegagalan dalam perkembangan hubungan dengan anak-anak sebaya sesuai dengan tahap perkembangan.
3) Tidak bisa secara spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau pencapaian bersama orang lain secara spontan (seperti tidak menunjukan, membawa atau menunjukan objek luar perhatian.
4) Tidak adanya timbal balik sosial atau emosional.
B. FAKTA DILAPANGAN
1. Hubungan social x dengan orang tua.
Orang tua merupakan salah satu bagian terpenting dalam hubungan social anak autis, anak akan belajar berinteraksi dengan orang tua sebelum mereka turun kelapangan, namun berbeda dengan anak autis, orang tua harus berupaya mengajarkan cara berinteraksi dengan lingkungan.
Penulis melihat hubungan autis x dengan orang tua tergantung keadaan dan suasan hati autis x, jika autis x dalam keadaan senang, maka autis x akan menjawab setiap pertanyaan dari orang tua, namun jika sedang sedih atau marah, maka autis x akan mengurung diri dikamar tanpa au mengiyakan perkataan orang tuanya.
Meskipun demikian, penulis menemukan bahwa hubungan yang tercipta antara autis x dengan keluarga berjalan dengan lancar dan hangat. Meskipun autis x tidak bisa menjalin kontak mata.
2. Hubungan social x dengan kakak dan adik.
Autis x memiliki keluarga yang besar, ia mempunyai saudara 6 dan ia sendiri anak ke empat. Kakak ke dua autis x juga mengalami kelainan ADHD. Jika penulis perhatikan, hubungan social mereka berjalan seperti apa adanya, karena autis x tidak mampu berkomunikasi dengan baik, maka kebanyakan kakak dan adiknya yang mengajak autis x untuk berbicara.
Meskipun demikian, adik autis x juga sering menjahili autis x dengan permainan yang mebuat autis x kesal dan tidak jarang autis x mengurung diri karena perilaku adk-adiknya tadi.
3. Respon autis x ketika diajak bermain.
Autis x sangat susah untuk bermain, mereka lebih suka untuk bermain sendir seperti main game pada hp. Disaat itu ia memilki ekspresi tersendiri saat ia mengalami kekalahan dan kemenangan. Namun bagaiman jika diajak bermain? Autis x akan mengiyakan bermain tersebut jika ia senangi dan suasana hatinya sedang baik, namun ia akan menolak jika permainan tidak menyenangkan dan membuat hatinya kesal.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Perilaku sosial memungkinkan seorang individu untuk berhubungan danberinteraksi dalam seting sosial. Tinjauan tentang kesulitan (deficits) sosial pada anakanak autis baru-baru ini muncul
1. Tanda Awal Keterasingan Sosial
2. Tidak Mampu Berteman Dengan Teman Sebayanya
3. Theory Of Mind
4. Proses Sosial Spesifik Anak Autis
Ciri-ciri gangguan social lainnya adalah
1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2. Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3. Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
1. Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2. Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3. Bahasa aneh dan diulang-ulang/stereotip
4. Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
B. SARAN
Dalam memberikan pelatihan hubungan social bagi autis, tidak cukup dirumah saja, melainkan juga diharapkan dapat terjalain diluar rumah. Harus ada keberanian dari orang tua untuk membawa anak autis untuk berinteraksi dengan dunia luar.
Selain itu, orang tua harus peka terhadap perilaku adik-adik autis x terhadap dirinya yang suka menjahilinya. Perlu pengerian bagi dik-adinya bahwa autis x mengalami kekurangan yang seharusnya tidak diganggu melainkan dibantu.
C. BUKTI PENUNJANG
DAFTAR PUSTAKA
http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/data.html. Diakses pada tanggal 12 DESEMBER 2011, 07:55 WIB.
http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/facts.html. Diakses pada tanggal 12 DESEMBER 2011, 07:55 WIB.
http://www.emedicinehealth.com/autism/article_em.htm#Autism%20Overview. Diakses pada tanggal 12 DESEMBER 2011, 07:15 WIB.
http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme. Diakses pada tanggal 12 DESEMBER 2011, 11:25 WIB.
Pola asuh yang benar bagi anak autis didalam keluarga
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Keluarga merupakan bagian terkecil dalam kehidupan social anak. Di dalalm keluarga, anak mampu mempelajari dan membangun kepercayaan diri untuk menghadapi masyarakat dimasa yag akan datang. Sering orang mengaitkan bahwa jika anak mengalami suatu sesuatu yang tidak wajar, maka keluargalah yang menjadi tujuan utama mengapa hal tersebut bisa terjadi pada anak.
Tidak hanya pada bagian itu, didalam keluarga, anak mendapatkan pendidikan dasar mengenai hakikat kehidupan, nilai-nilai agama serta pendidikan. Pola asuh yang salah akan berdampak pada anak dimasa yang akan datang. Tidak hanya anak biasa, anak autis juga memerlukan pola asuh yang cukup kompleks dan relevan terhadap permasalahan yang diderita anak tersebut. Karena tidak semua anak autis memiliki karakteristik dan kebutuhan yang sama.
Anak autis memilki kendala dan permasalahan pada interaksi social, komunikasi dan perilakunya. Dan ada juga anak autis yang perlu diet makanan agar keautisan anak tidak bertambah. Pola asuh bagi anak autis tidak terletak pada pemberian nilai maupun bimbingan ilmu spiritual, melainkan pada pelayanan yang diperlukan agar keautisan anak berkurang.
B. BATASAN MASALAH
Berdasarkan paparan diatas, maka penulis mengambil suatu permasalahan yaitu “Bagaimana cara pola suh yang benar bagi anak autis didalam keluarga”
C. RUMUSAN MASALAH
Penulis menemukan berbagai pertanyaan terkait dengan permasalah diatas , diantaranya:
1. Bagaimana sikap orang tua disaat mengetahui anaknya menderita autis?
2. Bagaimana peran orangtua dalam membantu anak autis dalam mencapai tugas perkembangannya?
3. Bagaimanakah pola asuh orangtua yang benar terhadap anak autis?
4. Bagimanakah cara orangtua dalam memberi pengertian hidup bersaudara kepada anak autis?
5. Trik apa sajakah yang dipakai orangtua dalam mengasuh anak autis?
D. TUJUAN
Tujuan dalam pembuatan tugas akhir semester ini adalah:
1. Untuk mengetahui respon dari orang tua yang mengetahui bahwa anaknya menderit autis.
2. Untuk mengetahui peran orangtua dalam membantu anak autis mencapai tugas perkembangannya.
3. Untuk mengetahui pola asuh orangtua dalam menangani permasalahan yang diderita anak autis.
4. Mengetahui cara orangtua dalam memberikan pemahaman mengenai hidup bersaudara.
5. Untuk memahami trik yang digunakan oleh orangtua dalam mengasuh anak autis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PEMBAHASAN SECARA TEORI
1. Pengertian autis
Autis adalah suatu masalah yang diderita oleh seorang anak pada bagian neurobiologisnya sehingga menyebabkan anak susah untuk berinteraksi dengan dunia luar, susah menjalin komunikasi dengan dunia luar serta memiliki kelainan dalam perilaku. Pada umumnya anak autis dapat diketahui cirri-cirinya sebelum anak berusia 3 tahun.
2. Pola asuh orang tua
a. Pengertian orang tua
Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan pengertian orang tua di atas, tidak terlepas dari pengertian keluarga, karena orang tua merupakan bagian keluarga besar yang sebagian besar telah tergantikan oleh keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Secara tradisional, keluarga diartikan sebagai dua atau lebih orang yang dihubungkan dengan pertalian darah, perkawinan atau adopsi (hukum) yang memiliki tempat tinggal bersama.
b. Pengertian pola asuh
Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu kewaktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negatif dan positif.
Gaya pola asuh adalah kumpulan dari sikap, praktek dan ekspresi nonverbal orangtua yang bercirikan kealamian dari interaksi orangtua kepada anak sepanjang situasi yang berkembang. Penelitian kontemporer pada gaya pola asuh berasal dari penelitian terkenal Baumrind dalam anak dan keluarganya. Gaya konseptual pola asuh Baumrind didasarkan pada pendekatan tipologis pada studi praktek sosialisasi keluarga. Pendekatan ini berfokus pada konfigurasi dari praktek pola asuh yang berbeda dan asumsi bahwa akibat dari salah satu praktek tersebut tergantung sebagian pada pengaturan kesemuanya. Variasi dari konfigurasi elemen utama pola asuh (seperti kehangatan, keterlibatan, tuntutan kematangan, dan supervisi) menghasilkan variasi dalam bagaimana seorang anak merespon pengaruh orangtua. Dari perspektif ini, gaya pola asuh dipandang sebagai karakteristik orang tua yang membedakan keefektifan dari praktek sosialisasi keluarga dan penerimaan anak pada praktek tersebut
c. Jenis-jenis pola asuh
Menurut Baumrind, terdapat 4 macam pola asuh orang tua:
1. Pola asuh Demokratis
Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.
2. Pola asuh Otoriter
Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya.
3. Pola asuh Permisif
Pola asuh ini memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak.
4. Pola asuh Penelantar
Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biaya pun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya.
b. Agus Dariyo, membagi bentuk pola asuh orang tua menjadi empat, yaitu :
1. Pola Asuh Otoriter (parent oriented)
Ciri-cri dari pola asuh ini, menekankan segala aturan orang tua harus ditaati oleh anak. Orang tua bertindak semena-mena, tanpa dapat dikontrol oleh anak. Anak harus menurut dan tidak boleh membantah terhadap apa yang diperintahkan oleh orang tua. Dalam hal ini, anak seolah-olah mejadi “robot”, sehingga ia kurang inisiatif, merasa takut tidak percaya diri, asuh ini, cenderung akan menjadi disiplin yakni mentaati peraturan. Akan tetapi bisa jadi, ia hanya mau menunjukkan kedisiplinan di hadapan orang tua, padahal dalam hatinya berbicara lain, sehingga ketika di belakang orang tua, anak bersikap dan bertindak lain. Hal itu tujuannya semata hanya untuk menyenangkan hati orang tua. Jadi anak cenderung memiliki kedisiplinan dan kepatuhan yang semu.
2. Pola Asuh Permisif (children centered) pencemasrendah diri, minder dalam pergaulan tetapi disisi lain, anak bisa memberontak, nakal, atau melarikan diri dari kenyataan, misalnya dengan menggunakan narkoba. Dari segi positifnya, anak yang dididik dalam pola
Sifat pola asuh ini, yakni segala aturan dan ketetapan keluarga di tangan anak. Apa yang dilakukan oleh anak diperbolehkan orang tua. Orang tua menuruti segala kemauan anak. Anak cenderung bertindak semena-mena , tanpa pengawasan orang tua. Ia bebas melakukan apa saja yang diinginkan. Dari sisi negatif lain, anak kurang disiplin dengan aturan-aturan sosial yang berlaku. Bila anak mampu menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab , maka anak akan menjadi seorang yang mandiri, kreatif, inisiatif dan mampu mewujudkan aktualisasinya.
3. Pola Asuh Demokratis
Kedudukan antara orang tua dan anak sejajar. Suatu keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan kedua belah pihak. Anak diberi kebebasan yang bertanggung jawab, artinya apa yang dilakukan oleh anak tetap harus dibawah pengawasan orang tua dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral. Orang tua dan anak tidak dapat berbuat semena-mena. Anak diberi kepercayaan dan dilatih untuk mempertanggung jawabkan segala tindakannya. Akibat positif dari pola asuh ini, anak akan menjadi seorang individu yang mempercayai orang lain, bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya, tidak munafik, jujur. Namun akibat negatif, anak akan cenderung merongrong kewibawaan otoritas orang tua, kalau segala sesuatu harus dipertimbangkan anak dan orang tua.
4. Pola Asuh Situsional
Pada pola asuh ini orang tua tidak menerapkan salah satu tipe pola asuh tertentu. Tetapi kemungkinan orang tua menerapkan pola asuh secara fleksibel, luwes dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlangsung saat itu.
c. Menurut Hourlock dalam Chabib Thoha, mengemukakan ada tiga jenis pola asuh orang tua terhadap anaknya, yakni :
1. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter ditandai dengan cara mengasuh anak dengan aturan aturan yang ketat, seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orang tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi. Anak jarang diajak berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan orang tua, orang tua menganggap bahwa semua sikapnya sudah benar sehingga tidak perlu dipertimbangkan dengan anak.
Pola asuh yang bersifat otoriter juga ditandai dengan penggunaan hukuman yang keras, lebih banyak menggunakan hukuman badan, anak juga diatur segala keperluan dengan aturan yang ketat dan masih tetap diberlakukan meskipun sudah menginjak usia dewasa. Anak yang dibesarkan dalam suasana semacam ini akan besar dengan sifat yang ragu-ragu, lemah kepribadian dan tidak sanggup mengambil keputusan tentang apa saja.
2. Pola Asuh Demokratis
Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung pada orang tua. Orang tua sedikit memberi kebebasan kepada anak untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya, anak didengarkan pendapatnya, dilibatkan dalam pembicaraan terutama yang menyangkut dengan kehidupan anak itu sendiri. Anak diberi kesempatan untuk mengembangkan kontrol internalnya sehingga sedikit demi sedikit berlatih untuk bertanggung jawab kepada diri sendiri. Anak dilibatkan dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengatur hidupnya.
3. Pola Asuh Permisive
Pola asuh ini ditandai dengan cara orang tua mendidik anak secara bebas, anak dianggap sebagai orang dewasa atau muda, ia diberi kelonggaran seluasluasnya untuk melakukan apa saja yang dikehendaki. Kontrol orang tua terhadap anak sangat lemah, juga tidak memberikan bimbingan yang cukup berarti bagi anaknya. Semua apa yang telah dilakukan oleh anak adalah benar dan tidak perlu mendapatkan teguran, arahan atau bimbingan.
B. PEMBAHASAN YANG DITEMUKAN DITENGAH LAPANGAN
1. Perasaan orang tua saat mendapatkan anaknya autis
X terdeteksi autis disaat ia berusia 2,5 tahun, saat itu ia x tidak merespon setiap perkataan yang diucapkan oleh ibunya. Begitupun sebaliknya, x tidak bisa menatap mata sang orang lawan bicaranya. Berdasarkan hal tersebut, maka orang tua x berspekulasi bahwa x menderita uatu kelainan. Tak lama berselang, orang tua x langsung mebawa x ke dokter untuk memastikan apakah x memiliki kelainan ataupun tidak. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternya x positif menderita autis. Bagaimana perasaan orang tua x saat mendengar anaknya terdeteksi autis? Sama halnya dengan ibunda lainnya, perasaan kecewa, sedih dan merasa bersalah menyelimuti hati bunda x. seakan tidak percaya bahwa anak yang ia lahirkan dahulu menderita autis ringan.
Setelah dilakukan pemeriksaan intelegensi, diketahui x memiliki tingat intelegensi yang rendah. Hal ini memperparah kondisi jiwa dan batn x, namun pada hari-hari seanjutnya, ibunda x menyadari bahwa setiap anak itu berbeda dan memiliki kekurangan dan kelebihan, selain itu bagaimanapun bentuk anak, anak merupakan anugrah dari ALLOH swt. Atas dasr inilah bunda x tidak lagi mempermasalahkan apakah x anak autis atau tidak, melainkan x berusaha mencari solusi dari keautisan x.
Perlu diketahui, x memiliki 7 bersaudara, dan kakaknya yang nomor dua juga mengalami kelainan yaitu ADHD.
2. Peran orangtua dalam membantu anak autis mencapai tugas perkembangannya.
Dalam mencapai suatu tugas perkembangan, tentu anak autis mengalami kelambatan dari semestinya, namun orang tua x tidak mudah patah arang dan berusaha untuk memberikan pertolongan semaksimal mungkin agar anaknya bisa hidup seperti anak biasanya. Salah satu upaya yang dilakukan bunda x adalah dengan memasukkan x kedalam lembaga yang melayani terapi bagi x. selama terapi, orang tua x melihat perkembangan yang signifikan pada diri x, mulai dari berbicara, mengambil makanan sendiri, mengungkapkan apa yang ia inginkan. Hingga saat ini, mulai dari tahun2009 x terus menjalani terapi secara rutin dan kontiniu di lembaga tersebut. Disini terlihat jelas bahwa orangtua ikut memberi andil dalam membantu x dalam menjalani tugas perkembangannya. Selain membawa x ketempat terapi, orang tua x juga mengikuti berbagai acara tentang anak autis guna untuk mengetahui dan mengenal lebih dalam mengenai anak autis.
3. Pola asuh orangtua dalam menangani permasalahan yang diderita anak autis.
Berdasarkan paparan diatas tadi, pola asuh yang digunakan orang tua x terhadap x adalah pola asuh demokrasi. Mengapa demikian? Karena berdasarkan pantauan penulis, penulis melihat orang tua tidak mengistimewakan x dari anak-anak yang lainnya. Jika x ingin ini, maka anak lain juga dibelikan, begitupun jika saudara x dibelikan sesuatu, maka x juga dibelikan. Orang tua x juga tidak mengekang x dalam segala hal selama hal yang ia lakukan tidak merusak dirinya. Namun adakalanya juga ibunda x menegur x jika melakukan kesalahan seperti x bermain hp terus menerus sehingga x lupa untuk melakukan pekerjaan lainnya.
Hal lainnya adalah memberikan informasi kepada x mengenai hal-hal yang tidak boleh ia lakukan seperti tidur siang hari karena hal ini akan membuat x tidak akan tidur dimalamharinya. Tidak sebatas itu, untuk mengenalkan kepada x bagaimana berinteraksi dengan dunia luar, orang tua x juga memasukkan x kedalam sekolah inklusi. Hal ini juga sangat mendukung x dalam mengurangi keautisannya dan bersosialisasi dengan lingkungan luar.
Sebagai anak autis, orang tua x juga memahami karakteristik x, missal disaat x tidak merasa mood maka orang tua x tidak akan memaksa x untuk melakukan seesuatu melainkan membiarkan x untuk istirahat karena disaat x tidak mood maka ia akan langsung tidur.
4. Cara orangtua dalam memberikan pemahaman mengenai hidup bersaudara
X memiliki enam saudara. 5 diantaranya laki-laki dan 2 diantaranya perempuan. Namun hal ini tidak membuat x terganggu atapun lain sebagainya. Hal ini tentu menjadi tanda Tanya bagi penulis bagaimana cara orang tua melatih x agar tidak melakukan demikian. Ternyata ada beberapa alas an mengapa x bisa melakukan hal demikian, diantaranya:
a. X merupakaan autis ringan hipoaktif.
Keautisan x bersifat hipoaktif, sehingga ada beberapa keuntungan yang didapat dengan karakteristik x ini, salah satu diantaranya seperti yang tertera diatas.
b. Orang tua x menegur setiap kali melihat x melakukan hal yang tidak baik bagi saudaranya.
X bukannya tidak pernah meakukan sesuatu yang tidak baik, melaikan pernah, namun jika terlihat oleh orang tua x, maka orang tua x langsung menegurnya.
c. Orang tua x memberikan ontoh bagaimana berperilaku yang baik terhadap x
Hal yang paling sering dilakukan orang tua x dirumah yaitu mencium saudara x yang paling kecil. Hal ini tentu menjadi bahan pikiran tersendiri bagi x mengapa hal tersebut dilakukan terus oleh orang tuanya.
5. Trik yang digunakan oleh orangtua dalam mengasuh anak autis.
Melihat perilaku x yang santuan, menyium tangan penulis saat bertemu meskipun tidak melihat, menjawab pertanyaan penulis meskipun kurang dimengerti, dan mampu menjaga kebersihan. setidaknya penulis menemukan ada beberapa kemajuan seperti gangguan perilaku yang tidak ada pada x. Atas dasar ini penulis menanyakan trik yang dipakai orang tua x dalam mengajarkan hal demikian?
Ada beberapa yang sering dilakukan oleh orang tua x diantaranya:
a. Tidak membedakan x dengan anak lainnya dalam membeikan peraturan atapun lainnya, terlebih saat berkumpul.
b. Memberikan terapi sesuai dengan kebutuhan x.
c. Mengajarkan sholat pada x tepat waktunya, ini berfungsi agar x mampu mengingat jadwalnya secara teratur.
d. Menyekolahkan x pada sekolah inklusi agar x mampu bersosialisasi dengan dunia luar.
e. Tidak melabel x dalam keluarganya.
f. Memberikan teguran secara lunak tanpa membuat x merasa tersinggung seperti menyediakan kamar khusus yang terbuat dari terali besi agar x tidak membuat kerusakan saat a tidak mood.
g. Tidak memaksa x untuk melakukan sesuatu yang memang ia sedang tidak mood.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Orang tua merupakan suatu kelompok masyarakat kecil yang memilki peran besar dalam perkembangan anak autis, termasuk dalam pemberian pola asuh bagi mereka. Ada beberapa pola asuh yang terjadi ditengah masyarakat, diantaranya adalah
a. Pola asuh demokrasi
b. Pola asuh otoriter
c. Pola asuh penelantar
d. Pola asuh peimistis
Pola asuh sangat menentukan dalam perkembangan autis, karena jika pola asuh tidak sesuai dengan karakteristik anak, maka akan membuat keautisan anak semakin menjadi-jadi.
Ada beberapa poin dari hasil observasi mengenai pola asuh orng tua terhadapautis x, diantaranya:
a. Pada awalnya orangtua kecewa, merasa bersalah dan malu mendapatkan anaknya autis, namun berkat motivasi dari luar, maka orang tua mampu menrima anak tersebut.
b. Pola asuh yang diberikan orang tua x adalah pola asuh demokrasi, dan ternyata pola ini membawa kemajuan yang berarti bagi autis x.
c. Ada beberapa trik yang digunakan orang tua x dalam pola asuh x, diantaranya tidak membedakkan anak, mengajarkan sholat tepat waktu, menyekolahkan pada sekolah inklusi dll.
B. SARAN
Meskipun autis x telah diperiksa kedokter pada usia 2,5 tahun, namun pada usianya sekarang, yaitu 10 tahun, tentu ada beberapa perubahan yang dialami anak, dan hal ini tidak diperhatikan oleh orang tua x sehingga tidak ada karakteristik yang tepat mengenai anak.
Selain itu, orang tua tidak berupaya dalam menyuruh anak mengulangi pelajaran disekolah, orang tua membiarkan anak untuk melatih ingatannya dan mengajarkan ingat pada tugas. Namun hakikatnya tidak harus demikian, orang tua harus mengingatkan anak untuk mengulangi kembali pelajaran tersebut agar tampak kepedulian orang tua terhadap anak.
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Keluarga merupakan bagian terkecil dalam kehidupan social anak. Di dalalm keluarga, anak mampu mempelajari dan membangun kepercayaan diri untuk menghadapi masyarakat dimasa yag akan datang. Sering orang mengaitkan bahwa jika anak mengalami suatu sesuatu yang tidak wajar, maka keluargalah yang menjadi tujuan utama mengapa hal tersebut bisa terjadi pada anak.
Tidak hanya pada bagian itu, didalam keluarga, anak mendapatkan pendidikan dasar mengenai hakikat kehidupan, nilai-nilai agama serta pendidikan. Pola asuh yang salah akan berdampak pada anak dimasa yang akan datang. Tidak hanya anak biasa, anak autis juga memerlukan pola asuh yang cukup kompleks dan relevan terhadap permasalahan yang diderita anak tersebut. Karena tidak semua anak autis memiliki karakteristik dan kebutuhan yang sama.
Anak autis memilki kendala dan permasalahan pada interaksi social, komunikasi dan perilakunya. Dan ada juga anak autis yang perlu diet makanan agar keautisan anak tidak bertambah. Pola asuh bagi anak autis tidak terletak pada pemberian nilai maupun bimbingan ilmu spiritual, melainkan pada pelayanan yang diperlukan agar keautisan anak berkurang.
B. BATASAN MASALAH
Berdasarkan paparan diatas, maka penulis mengambil suatu permasalahan yaitu “Bagaimana cara pola suh yang benar bagi anak autis didalam keluarga”
C. RUMUSAN MASALAH
Penulis menemukan berbagai pertanyaan terkait dengan permasalah diatas , diantaranya:
1. Bagaimana sikap orang tua disaat mengetahui anaknya menderita autis?
2. Bagaimana peran orangtua dalam membantu anak autis dalam mencapai tugas perkembangannya?
3. Bagaimanakah pola asuh orangtua yang benar terhadap anak autis?
4. Bagimanakah cara orangtua dalam memberi pengertian hidup bersaudara kepada anak autis?
5. Trik apa sajakah yang dipakai orangtua dalam mengasuh anak autis?
D. TUJUAN
Tujuan dalam pembuatan tugas akhir semester ini adalah:
1. Untuk mengetahui respon dari orang tua yang mengetahui bahwa anaknya menderit autis.
2. Untuk mengetahui peran orangtua dalam membantu anak autis mencapai tugas perkembangannya.
3. Untuk mengetahui pola asuh orangtua dalam menangani permasalahan yang diderita anak autis.
4. Mengetahui cara orangtua dalam memberikan pemahaman mengenai hidup bersaudara.
5. Untuk memahami trik yang digunakan oleh orangtua dalam mengasuh anak autis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PEMBAHASAN SECARA TEORI
1. Pengertian autis
Autis adalah suatu masalah yang diderita oleh seorang anak pada bagian neurobiologisnya sehingga menyebabkan anak susah untuk berinteraksi dengan dunia luar, susah menjalin komunikasi dengan dunia luar serta memiliki kelainan dalam perilaku. Pada umumnya anak autis dapat diketahui cirri-cirinya sebelum anak berusia 3 tahun.
2. Pola asuh orang tua
a. Pengertian orang tua
Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan pengertian orang tua di atas, tidak terlepas dari pengertian keluarga, karena orang tua merupakan bagian keluarga besar yang sebagian besar telah tergantikan oleh keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Secara tradisional, keluarga diartikan sebagai dua atau lebih orang yang dihubungkan dengan pertalian darah, perkawinan atau adopsi (hukum) yang memiliki tempat tinggal bersama.
b. Pengertian pola asuh
Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu kewaktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negatif dan positif.
Gaya pola asuh adalah kumpulan dari sikap, praktek dan ekspresi nonverbal orangtua yang bercirikan kealamian dari interaksi orangtua kepada anak sepanjang situasi yang berkembang. Penelitian kontemporer pada gaya pola asuh berasal dari penelitian terkenal Baumrind dalam anak dan keluarganya. Gaya konseptual pola asuh Baumrind didasarkan pada pendekatan tipologis pada studi praktek sosialisasi keluarga. Pendekatan ini berfokus pada konfigurasi dari praktek pola asuh yang berbeda dan asumsi bahwa akibat dari salah satu praktek tersebut tergantung sebagian pada pengaturan kesemuanya. Variasi dari konfigurasi elemen utama pola asuh (seperti kehangatan, keterlibatan, tuntutan kematangan, dan supervisi) menghasilkan variasi dalam bagaimana seorang anak merespon pengaruh orangtua. Dari perspektif ini, gaya pola asuh dipandang sebagai karakteristik orang tua yang membedakan keefektifan dari praktek sosialisasi keluarga dan penerimaan anak pada praktek tersebut
c. Jenis-jenis pola asuh
Menurut Baumrind, terdapat 4 macam pola asuh orang tua:
1. Pola asuh Demokratis
Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.
2. Pola asuh Otoriter
Pola asuh ini cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Orang tua tipe ini cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya.
3. Pola asuh Permisif
Pola asuh ini memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak.
4. Pola asuh Penelantar
Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biaya pun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya.
b. Agus Dariyo, membagi bentuk pola asuh orang tua menjadi empat, yaitu :
1. Pola Asuh Otoriter (parent oriented)
Ciri-cri dari pola asuh ini, menekankan segala aturan orang tua harus ditaati oleh anak. Orang tua bertindak semena-mena, tanpa dapat dikontrol oleh anak. Anak harus menurut dan tidak boleh membantah terhadap apa yang diperintahkan oleh orang tua. Dalam hal ini, anak seolah-olah mejadi “robot”, sehingga ia kurang inisiatif, merasa takut tidak percaya diri, asuh ini, cenderung akan menjadi disiplin yakni mentaati peraturan. Akan tetapi bisa jadi, ia hanya mau menunjukkan kedisiplinan di hadapan orang tua, padahal dalam hatinya berbicara lain, sehingga ketika di belakang orang tua, anak bersikap dan bertindak lain. Hal itu tujuannya semata hanya untuk menyenangkan hati orang tua. Jadi anak cenderung memiliki kedisiplinan dan kepatuhan yang semu.
2. Pola Asuh Permisif (children centered) pencemasrendah diri, minder dalam pergaulan tetapi disisi lain, anak bisa memberontak, nakal, atau melarikan diri dari kenyataan, misalnya dengan menggunakan narkoba. Dari segi positifnya, anak yang dididik dalam pola
Sifat pola asuh ini, yakni segala aturan dan ketetapan keluarga di tangan anak. Apa yang dilakukan oleh anak diperbolehkan orang tua. Orang tua menuruti segala kemauan anak. Anak cenderung bertindak semena-mena , tanpa pengawasan orang tua. Ia bebas melakukan apa saja yang diinginkan. Dari sisi negatif lain, anak kurang disiplin dengan aturan-aturan sosial yang berlaku. Bila anak mampu menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab , maka anak akan menjadi seorang yang mandiri, kreatif, inisiatif dan mampu mewujudkan aktualisasinya.
3. Pola Asuh Demokratis
Kedudukan antara orang tua dan anak sejajar. Suatu keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan kedua belah pihak. Anak diberi kebebasan yang bertanggung jawab, artinya apa yang dilakukan oleh anak tetap harus dibawah pengawasan orang tua dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral. Orang tua dan anak tidak dapat berbuat semena-mena. Anak diberi kepercayaan dan dilatih untuk mempertanggung jawabkan segala tindakannya. Akibat positif dari pola asuh ini, anak akan menjadi seorang individu yang mempercayai orang lain, bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya, tidak munafik, jujur. Namun akibat negatif, anak akan cenderung merongrong kewibawaan otoritas orang tua, kalau segala sesuatu harus dipertimbangkan anak dan orang tua.
4. Pola Asuh Situsional
Pada pola asuh ini orang tua tidak menerapkan salah satu tipe pola asuh tertentu. Tetapi kemungkinan orang tua menerapkan pola asuh secara fleksibel, luwes dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlangsung saat itu.
c. Menurut Hourlock dalam Chabib Thoha, mengemukakan ada tiga jenis pola asuh orang tua terhadap anaknya, yakni :
1. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter ditandai dengan cara mengasuh anak dengan aturan aturan yang ketat, seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orang tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi. Anak jarang diajak berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan orang tua, orang tua menganggap bahwa semua sikapnya sudah benar sehingga tidak perlu dipertimbangkan dengan anak.
Pola asuh yang bersifat otoriter juga ditandai dengan penggunaan hukuman yang keras, lebih banyak menggunakan hukuman badan, anak juga diatur segala keperluan dengan aturan yang ketat dan masih tetap diberlakukan meskipun sudah menginjak usia dewasa. Anak yang dibesarkan dalam suasana semacam ini akan besar dengan sifat yang ragu-ragu, lemah kepribadian dan tidak sanggup mengambil keputusan tentang apa saja.
2. Pola Asuh Demokratis
Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung pada orang tua. Orang tua sedikit memberi kebebasan kepada anak untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya, anak didengarkan pendapatnya, dilibatkan dalam pembicaraan terutama yang menyangkut dengan kehidupan anak itu sendiri. Anak diberi kesempatan untuk mengembangkan kontrol internalnya sehingga sedikit demi sedikit berlatih untuk bertanggung jawab kepada diri sendiri. Anak dilibatkan dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengatur hidupnya.
3. Pola Asuh Permisive
Pola asuh ini ditandai dengan cara orang tua mendidik anak secara bebas, anak dianggap sebagai orang dewasa atau muda, ia diberi kelonggaran seluasluasnya untuk melakukan apa saja yang dikehendaki. Kontrol orang tua terhadap anak sangat lemah, juga tidak memberikan bimbingan yang cukup berarti bagi anaknya. Semua apa yang telah dilakukan oleh anak adalah benar dan tidak perlu mendapatkan teguran, arahan atau bimbingan.
B. PEMBAHASAN YANG DITEMUKAN DITENGAH LAPANGAN
1. Perasaan orang tua saat mendapatkan anaknya autis
X terdeteksi autis disaat ia berusia 2,5 tahun, saat itu ia x tidak merespon setiap perkataan yang diucapkan oleh ibunya. Begitupun sebaliknya, x tidak bisa menatap mata sang orang lawan bicaranya. Berdasarkan hal tersebut, maka orang tua x berspekulasi bahwa x menderita uatu kelainan. Tak lama berselang, orang tua x langsung mebawa x ke dokter untuk memastikan apakah x memiliki kelainan ataupun tidak. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternya x positif menderita autis. Bagaimana perasaan orang tua x saat mendengar anaknya terdeteksi autis? Sama halnya dengan ibunda lainnya, perasaan kecewa, sedih dan merasa bersalah menyelimuti hati bunda x. seakan tidak percaya bahwa anak yang ia lahirkan dahulu menderita autis ringan.
Setelah dilakukan pemeriksaan intelegensi, diketahui x memiliki tingat intelegensi yang rendah. Hal ini memperparah kondisi jiwa dan batn x, namun pada hari-hari seanjutnya, ibunda x menyadari bahwa setiap anak itu berbeda dan memiliki kekurangan dan kelebihan, selain itu bagaimanapun bentuk anak, anak merupakan anugrah dari ALLOH swt. Atas dasr inilah bunda x tidak lagi mempermasalahkan apakah x anak autis atau tidak, melainkan x berusaha mencari solusi dari keautisan x.
Perlu diketahui, x memiliki 7 bersaudara, dan kakaknya yang nomor dua juga mengalami kelainan yaitu ADHD.
2. Peran orangtua dalam membantu anak autis mencapai tugas perkembangannya.
Dalam mencapai suatu tugas perkembangan, tentu anak autis mengalami kelambatan dari semestinya, namun orang tua x tidak mudah patah arang dan berusaha untuk memberikan pertolongan semaksimal mungkin agar anaknya bisa hidup seperti anak biasanya. Salah satu upaya yang dilakukan bunda x adalah dengan memasukkan x kedalam lembaga yang melayani terapi bagi x. selama terapi, orang tua x melihat perkembangan yang signifikan pada diri x, mulai dari berbicara, mengambil makanan sendiri, mengungkapkan apa yang ia inginkan. Hingga saat ini, mulai dari tahun2009 x terus menjalani terapi secara rutin dan kontiniu di lembaga tersebut. Disini terlihat jelas bahwa orangtua ikut memberi andil dalam membantu x dalam menjalani tugas perkembangannya. Selain membawa x ketempat terapi, orang tua x juga mengikuti berbagai acara tentang anak autis guna untuk mengetahui dan mengenal lebih dalam mengenai anak autis.
3. Pola asuh orangtua dalam menangani permasalahan yang diderita anak autis.
Berdasarkan paparan diatas tadi, pola asuh yang digunakan orang tua x terhadap x adalah pola asuh demokrasi. Mengapa demikian? Karena berdasarkan pantauan penulis, penulis melihat orang tua tidak mengistimewakan x dari anak-anak yang lainnya. Jika x ingin ini, maka anak lain juga dibelikan, begitupun jika saudara x dibelikan sesuatu, maka x juga dibelikan. Orang tua x juga tidak mengekang x dalam segala hal selama hal yang ia lakukan tidak merusak dirinya. Namun adakalanya juga ibunda x menegur x jika melakukan kesalahan seperti x bermain hp terus menerus sehingga x lupa untuk melakukan pekerjaan lainnya.
Hal lainnya adalah memberikan informasi kepada x mengenai hal-hal yang tidak boleh ia lakukan seperti tidur siang hari karena hal ini akan membuat x tidak akan tidur dimalamharinya. Tidak sebatas itu, untuk mengenalkan kepada x bagaimana berinteraksi dengan dunia luar, orang tua x juga memasukkan x kedalam sekolah inklusi. Hal ini juga sangat mendukung x dalam mengurangi keautisannya dan bersosialisasi dengan lingkungan luar.
Sebagai anak autis, orang tua x juga memahami karakteristik x, missal disaat x tidak merasa mood maka orang tua x tidak akan memaksa x untuk melakukan seesuatu melainkan membiarkan x untuk istirahat karena disaat x tidak mood maka ia akan langsung tidur.
4. Cara orangtua dalam memberikan pemahaman mengenai hidup bersaudara
X memiliki enam saudara. 5 diantaranya laki-laki dan 2 diantaranya perempuan. Namun hal ini tidak membuat x terganggu atapun lain sebagainya. Hal ini tentu menjadi tanda Tanya bagi penulis bagaimana cara orang tua melatih x agar tidak melakukan demikian. Ternyata ada beberapa alas an mengapa x bisa melakukan hal demikian, diantaranya:
a. X merupakaan autis ringan hipoaktif.
Keautisan x bersifat hipoaktif, sehingga ada beberapa keuntungan yang didapat dengan karakteristik x ini, salah satu diantaranya seperti yang tertera diatas.
b. Orang tua x menegur setiap kali melihat x melakukan hal yang tidak baik bagi saudaranya.
X bukannya tidak pernah meakukan sesuatu yang tidak baik, melaikan pernah, namun jika terlihat oleh orang tua x, maka orang tua x langsung menegurnya.
c. Orang tua x memberikan ontoh bagaimana berperilaku yang baik terhadap x
Hal yang paling sering dilakukan orang tua x dirumah yaitu mencium saudara x yang paling kecil. Hal ini tentu menjadi bahan pikiran tersendiri bagi x mengapa hal tersebut dilakukan terus oleh orang tuanya.
5. Trik yang digunakan oleh orangtua dalam mengasuh anak autis.
Melihat perilaku x yang santuan, menyium tangan penulis saat bertemu meskipun tidak melihat, menjawab pertanyaan penulis meskipun kurang dimengerti, dan mampu menjaga kebersihan. setidaknya penulis menemukan ada beberapa kemajuan seperti gangguan perilaku yang tidak ada pada x. Atas dasar ini penulis menanyakan trik yang dipakai orang tua x dalam mengajarkan hal demikian?
Ada beberapa yang sering dilakukan oleh orang tua x diantaranya:
a. Tidak membedakan x dengan anak lainnya dalam membeikan peraturan atapun lainnya, terlebih saat berkumpul.
b. Memberikan terapi sesuai dengan kebutuhan x.
c. Mengajarkan sholat pada x tepat waktunya, ini berfungsi agar x mampu mengingat jadwalnya secara teratur.
d. Menyekolahkan x pada sekolah inklusi agar x mampu bersosialisasi dengan dunia luar.
e. Tidak melabel x dalam keluarganya.
f. Memberikan teguran secara lunak tanpa membuat x merasa tersinggung seperti menyediakan kamar khusus yang terbuat dari terali besi agar x tidak membuat kerusakan saat a tidak mood.
g. Tidak memaksa x untuk melakukan sesuatu yang memang ia sedang tidak mood.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Orang tua merupakan suatu kelompok masyarakat kecil yang memilki peran besar dalam perkembangan anak autis, termasuk dalam pemberian pola asuh bagi mereka. Ada beberapa pola asuh yang terjadi ditengah masyarakat, diantaranya adalah
a. Pola asuh demokrasi
b. Pola asuh otoriter
c. Pola asuh penelantar
d. Pola asuh peimistis
Pola asuh sangat menentukan dalam perkembangan autis, karena jika pola asuh tidak sesuai dengan karakteristik anak, maka akan membuat keautisan anak semakin menjadi-jadi.
Ada beberapa poin dari hasil observasi mengenai pola asuh orng tua terhadapautis x, diantaranya:
a. Pada awalnya orangtua kecewa, merasa bersalah dan malu mendapatkan anaknya autis, namun berkat motivasi dari luar, maka orang tua mampu menrima anak tersebut.
b. Pola asuh yang diberikan orang tua x adalah pola asuh demokrasi, dan ternyata pola ini membawa kemajuan yang berarti bagi autis x.
c. Ada beberapa trik yang digunakan orang tua x dalam pola asuh x, diantaranya tidak membedakkan anak, mengajarkan sholat tepat waktu, menyekolahkan pada sekolah inklusi dll.
B. SARAN
Meskipun autis x telah diperiksa kedokter pada usia 2,5 tahun, namun pada usianya sekarang, yaitu 10 tahun, tentu ada beberapa perubahan yang dialami anak, dan hal ini tidak diperhatikan oleh orang tua x sehingga tidak ada karakteristik yang tepat mengenai anak.
Selain itu, orang tua tidak berupaya dalam menyuruh anak mengulangi pelajaran disekolah, orang tua membiarkan anak untuk melatih ingatannya dan mengajarkan ingat pada tugas. Namun hakikatnya tidak harus demikian, orang tua harus mengingatkan anak untuk mengulangi kembali pelajaran tersebut agar tampak kepedulian orang tua terhadap anak.
Kamis, 15 Desember 2011
makalah iad
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan manusia, tediri dari dua unsur, diantaranya: manusia sendiri dan lingkungan baik lingkungan hidup maupun mati. Manusia mempunyai peranan penting dalam kelangsungan kehidupan, namun manusia tidak akan hidup tanpa adanya lingkungan, berat diantara kedua unsur diatas sangat saling berkaitan.
Meskipun demikian, manusia diberi kelebihan oleh Tuhan Yang Maha Esa yaitu Akal yang dapat digunakan untuk berfikir dan memanfaatkan lingkungan. Namun disisi lain, nafsu juga menyelimuti kehidupan manusia, sehingga terkadang akal manusia dapat ditaklukan oleh nafsu dan melakukan kerusakan terhadap lingkungan.
Pada zaman yang serba canggih ini, maka kerusakan lingkungan tidak dapat terelakkkan lagi, karena keinginan manusia ingin membangun perumahan yang sangat besar dan memanfaatkan lingkungan secara berlebihan.
B. Batasan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mengambil batasan masalah mengenai “pencemaran lingkungan hidup”.
C. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang akan penulis angkat dalam makalah ini adalah:
1. Berikanlah contoh isu lingkungan dari segi regional, nasional dan global beserta penyebabnya?
2. Jelaskan pengertian dengan pencemaran air, udara, dan tanah serta penyebab dan akibatnya?
3. Jelaskanlah pengertian efek rumah kaca serta penyebab dan akibatnya terhadap lingkungan?
4. Jelaskanlah dampak pertumbuhan penduduk yang pesat terhadap Sumber Daya Alam dan kerusakan yang ditimbulkannya?
D. Tujuan
Tujuan dalampenulisan makalah ini adalah:
1. Memahami contoh isu lingkungan hidup dari segi regional, nasional dan global beserta penyebabnya.
2. Mengetahui pengertian pencemaran air, udara, dan tanah serta penyebab dan akibatnya.
3. Mengetahui pengertian efek rumah kaca serta penyebab dan akibatnya terhadap lingkungan.
4. Memahami dampak pertumbuhan penduduk yang pesat terhadap Sumber Daya Alam dan kerusakan yang ditimbulkannya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Contoh isu lingkungan dan penyebabnya.
1. Regional
Isu lingkungan yang sangat menonjol pada daerah-daerah di indonesia, terutama di kota Padang adalah:
1) Sampah yang melimpah.
Seperti daerah lainnya, konsekuensi dari banyaknya penduduk disuatu daerah adalah banyaknya sampah yang dihasilkan. Kota Padang merupakan ibu kota Sumatera Barat, oleh karena itu, segala pusat kegiatan yang pokok terpaku pada kota Padang, selain itu, kota Padang juga menjadi salah satu tujuan tempat menuntut ilmu yang ideal, terlebih dengan adanya beberapa universitas terkemuka yang banyak mengundang orang dari luar kota, bahkan dari luar provinsidan negara.
Penyebab lainnya adalah kesadaran masyarakat yang hampir hilang terhadap kebersihan. Masyarakat hanya menganggap bahwa kebersihan adalah tugas kebersihan.
Sampah yang paling banyak dikota Padang terletak di tepi pantai dan di pusat kota.
2) Sanitasi yang sangat jelek.
Kebersihan kota dan indahnya kota juga terlihat dari sanitasi yang lancar. Dikota Padang, sanitasi menjadi salah satu permasalahan lingkungan. Hal ini disebabkan oleh beberapa sebab, diantaranya:
a. Masyarakat yang membuang sampah keselokan.
b. Cuaca kota padang yang panas, sehingga air tidak mengalir dengan lancar.
3) Lahan yang semakin sempit.
Seiring berjalannya waktu, kota Padang menjadi daerah yang maju dan siap bersaing dengan daerah lainnya. Namun, dampak dari kemajuan itu adalah lahan yang semula digunakan untuk penanaman pohon diubah menjadi lahan pembangnan, sehingga pangan untuk masyarakat padang mengandalkan pangan dari daerah lain.
4) Penggunaan SDA yang berlebihan.
Di Padang terdapat beberapa sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan, diantaranya pasir sungai. Meskipun demikian, keinginan manusia yang ingin cepat kaya, maka masyarakat mengeksploitasi pasir tersebut secara berlebihan. Dampaknya adalah ketika hujan lebat, maka sungai aliran sungai tidak terbendung sehingga sering berakibat pengikisan tepi sungai.
Ket: sungai yang hampir habis karena pasirnya diambil secar berlebihan.
2. Nasional
Lebih luas lagi, beberapa isu lingkungan tingkat nasional yang sering dibicarakan dan sangat hangat ditelinga adalah;
1) Perubahan iklim.
Beberapa daerah tertentu di Indonesia sangat rentan terhadap beragam bahayaperubahan iklim. Meskipun temperatur udara di Indonesia kemungkinanakan mengalami sedikit kenaikan, perubahan iklim akan mengakibatlkancurah hujan yang lebih besar dan kenaikan permukaan laut.
Masyarakat dan ekosistem yang sangat rentan terhadap risiko perubahan iklim beradadi Jawa, Bali, beberapa bagian Sumatra dan sebagian besar Papua.Pemanasan laut juga akan berpengaruh pada keanekaragaman hayati lautdan sangat berbahaya bagi terumbu karang, yang sebelumnya telah risikopemutihan. Dampak potensial dari pembangunan meliputi :
• Peningkatan ancaman terhadap ketersediaan pangan
• Penurunan produktivitas pertanian
• Banjir yang melanda zona dan komunitas pesisir yang produktif
• Hilangnya mata pencaharian usaha tani dan pesisir
• Peningkatan intensitas penyakit yang ditularkan melalui air dan vektor.
Akar penyebab
Tingkat emisi gas rumah kaca yang tinggi di Indonesia disebabkan oleh deboisasi, kebakaran hutan dan degradasi lahan, khususnya lahan gambut. Emisi gas telah diatur dalam kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang tepat namun pelaksanaan dan penegakkannya masih lemah. Selain itu, inisiatif-inisiatif seperti perluasan produksi biofuel dan revitalisasi industri kehutanan dapat memperburuk emisi gas jika tidak direncanakan dengan hati-hati. Emisi dari sektor energi relatif kecil namun semakin meningkat dengan pesat - bahkan lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi. Akar penyebab masalah di bidang ini mencakup pelaksanaan program perluasan pembangkit listrik tenaga batu bara oleh Pemerintah RI dan rintangan terhadap pengembangan sumber energi yang dapat diperbaharui. Akhirnya, perencanaan atau investasi untuk mengurangi dampak emisi masih relatif sedikit, dan adaptasi dengan perubahan iklim.
2) Sampah
Jika melihat Indonesia, maka yang terlintas adalah banyaknya sampah yang bertebaran dimana-mana. Keadaan sampah di Indonesia sangat memprihatinkan, bahkan kota Denpasar sempat diisukan menjadi Neraka Dunia karena banyaknya sampah yang ada di tepi pantai kuta Bali.
Bahkan ibukota negara Indonesia, yaitu Jakarta juga memiliki rekor sampah yang cukup besar. Penyebab sampah ini adalah banyaknya masayarakat yang tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan, selain itu, sampah kiriman terkadang menjadi dalang terhadap sampah yang ada disuatu daerah.
Ket: bentuk ibu kota indonesia yang penuh dengan sampah dimana-mana.
3) Sanitasi yang buruk.
Menurut data bank dunia, Indonesia memilki sanitasi yang buruk dan berakibat pada pengeluaran dana yang semakin besar. Selain itu, hampir setiap daerah diIndonesia memiliki sanitasi yang buruk sehingga dampaknya semakin luas. Penyebab dari sanitasi yang buruk ini adalah kurangnya selokan-selokan yang strategis dan kalau ada selokan, itupun sudah rusak. Selain itu penyebab lainnya adalah masayrakat yang sering membuang sampah sembarangan termasuk kedalam selokan.
4) Pengundulan hutan
Indonesia merupakan paru-paru dunia, di Indonesia terdapat beberapa hutan yang menghasilkan oksigen dalam jumlah besar. Meskipun julukan itu desematkan ke Indonesia namun tidak membuat masyarakat Indonesia untuk menjaga kelestarian hutan.
Penyebab pengundulan hutan ini diantaranya:
a. Penebangan hutan secara liar.
Penebangan hutan secara liar sangat rentan terjadi di Indonsia, hal ini disebabkan oleh tingkat ekonomi penduduk yang lemah, harga kayu yang mahal dan para usahawan yang ingin meraup unung sebesar-besarnya.
Ket: Beberapa keadaan hutan yang telah ditebang secara liar dan tidak ditanam kembali dengan pohon baru.
b. Kebakaran hutan
Kebakaran hutan juga sering terjadi di Indonesia, diantaranya yang terjadi di Riau, Kalimantan dam daerah lainnya. Kebakaran hutan ini disebabkan oleh kelalaian manusia yang membakar sedikit lahan namun kebakaran tersebut meluas.
Ket: Kondisi hutan yang telah terbakar.
c. Pengalih gunaan hutan
Karena lahan yang sempit untuk membangun perumahan yang baru, maka salah satu jalannya adalah dengan menggunakan hutan sebagai gantinya. Selain itu, pengalih gunaan hutan juga disebabkan oleh penanaman kelapa sawit.
Ket: hutan yang akan ditanami pohon produksi lainnya.
3. Global
Isu lingkungan secara global yang semakin mencuat dan sering dibicarakan oleh para pemimpin dunia adalah perubahan iklim yang secara drastis. Perubahan iklim ini terjadi oleh beberapa sebab, diantaranya, penebangan hutan secar liar, efek rumah kaca, asap karbondioksida dari pabrik-pabrik didunia dan pecahnya es dikutup bumi.
Iklim yang tidak teratur sangat berdampak pada aktivitas manusia, kelangsungan ekonomi, dan roda perpolotikan. Perubahan iklim di dunia tidak lepas dari tanggung jawab negara-negara yang ada, namun yang paling bertanggung jawab adalah negara maju, karena mereka memilki emisi gas buang yang banyak dan tidak memiliki hutan yang memadai.
Selain perubahan iklim, pemanasan global pun menjadi isu lingkungan yang tidak dapat terelakkan, karena hampir disetiap sisi negara diatas muka bumi mengalami panas, bahakan negara yang awalnya dingin dan tak ada sejarah mengenai adanya panas disana malah mengalami panas yang panjang.
B. Pengertian pencemaran air, udara, tanah serta penyebab dan dampaknya.
1. Pencemaran Air
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran.
Penyebab
Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
• Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi.
• Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem.
• Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.
Dampaknya
• Di Jepang antara tahun 1953- 1960, lebih dari 100 orang meninggal atau cacat karena mengkonsumsi ikan yang berasal dari Teluk Minamata. Teluk ini tercemar merkuri yang bearasal dari sebuah pabrik plastik. Senyawa merkuri yang terlarut dalam air masuk melalui rantai makanan, yaitu mula-mula masuk ke dalam tubuh mikroorganisme yang kemudian dimakan yang dikonsumsi manusia. Bila merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pencernaan, dapat menyebabkan kerusakan akut pada ginjal sedangkan pada anak-anak dapat menyebabkan Pink Disease/ acrodynia, alergi kulit dan kawasaki disease/ mucocutaneous lymph node syndrome.
• Bila senyawa metil merkuri masuk ke dalam tubuh manusiamelalui media air, akan menyebabkan keracunan seperti yang dialami para korban Tragedi Minamata.
• Pestisida mempunyai sifat relatif tidak larut dalam air, tetapi mudah larut dan cenderung konsentrasinya meningkat dalam lemak dan sel-sel tubuh mahluk hidup disebut Biological Amplification, sehingga apabila masuk dalam rantai makanan konsentrasinya makin tinggi dan yang tertinggi adalah pada konsumen puncak. Contohnya ketika di dalam tubuh ikan kadarnya 6 ppm, di dalam tubuh burung pemakan ikan kadarnya naik menjadi 100 ppm dan akan meningkat terus sampai konsumen puncak.
• Sehingga tetap aktif untuk jangka waktu yang lama. Penggunaan deterjen secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai atau danau. Fosfat ini merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis. Jika tumbuhan air ini mati, akan terjadi proses pembusukan yang menghabiskan persediaan oksigen dan pengendapan bahan-bahan yang menyebabkan pendangkalan.
2. Pencemaran Udara
Pencemaran udara adalah masuk atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam udara dan atau berubahnya susunan udara oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.Terjadinya pengurangan maupun penambahan salah satu komponen kimia yang terkandung dalam udara (perubahan dari komposisi tersebut di atas) yang secara langsung atau tidak mempengaruhi kesehatan, keamanan dan kenyamanan manusia.
Sumber pencemaran udara :
a. Transportasi (sumber bergerak)
Ket:jumlah keadaan yang begitu banyak juga mempengaruhi kualitas udara.
b. Pembakaran bahan bakar dari sumber tetap
ket: terkadang kebakaran banguan maupun hutan juga menjadi sumber penyebab dari pencemaran udara.
c. Proses industri (sumber tetap)
Ket: industri negara maju sangat berpengaruh terhadap pencemaran udara
d. Pembangunan limbah padu (sumber tetap)
Sumber pencemaran dan faktor-faktor yang mempengaruhinya Pencemaran udara out door dan Pencemaran udara in door
Dampak Pencemaran Udara :
- Penipisan Ozon
- Pemanasan Global ( Global Warming )
- Penyakit pernapasan, misalnya : jantung, paru-paru dan tenggorokan
- Terganggunya fungsi reproduksi
- Stres dan penurunan tingkat produktivitas
- Kesehatan dan penurunan kemampuan mental anak-anak
- Penurunan tingkat kecerdasan (IQ) anak-anak.
- Keracunan gas CO timbul sebagai akibat terbentuknya karboksihemoglobin (COHb) dalam darah. Afinitas CO yang lebih besar dibandingkan dengan oksigen (O2) terhadap Hb menyebabkan fungsi Hb untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi terganggu. Berkurangnya penyediaan oksigen ke seluruh tubuh ini akan membuat sesak napas dan dapat menyebabkan kematian, apabila tidak segera mendapat udara segar kembali. Sedangkan bahan pencemar udara seperti NOx, SOx, dan H2S dapat merangsang pernapasan yang mengakibatkan iritasi dan peradangan.
3. Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).
Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.
Dampak
Pada kesehatan Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur masuk ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Kromium, berbagai macam pestisida dan herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua populasi. Timbal sangat berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh populasi.
Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terkena leukemia. Merkuri (air raksa) dan siklodiena dikenal dapat menyebabkan kerusakan ginjal, beberapa bahkan tidak dapat diobati. PCB dan siklodiena terkait pada keracunan hati. Organofosfat dan karmabat dapat dapat menyebabkan ganguan pada saraf otot. Berbagai pelarut yang mengandung klorin merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang tampak seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit untuk paparan bahan kimia yang disebut di atas. Yang jelas, pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian.
Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem[1]. Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut. Bahkan jika efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah, bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia asing yang lama-kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk penghuni piramida atas. Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti konsentrasi DDT pada burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat kematian anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.
Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.
C. Pengertian efek rumah kaca dan akibatnya.
1. Pengertian efek rumah kaca
Efek rumah kaca, pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan sebuah proses di mana atmosfer memanaskan sebuah planet. Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah kaca.
Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia (lihat juga pemanasan global). Yang belakangan ini diterima oleh semua; yang pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.
Ketika radiasi matahari tampak maupun tidak tampak dipancarkan ke bumi, 10 energi radiasi matahari itu diserap oleh berbagai gas yang ada di atmosfer, 34% dipantulkan oleh awan dan permukaan bumi, 42% membuat bumi menjadi panas, 23% menguapkan air, dan hanya 0,023% dimanfaatkan tanaman untuk perfotosintesis.
Malam hari permukaan bumi memantulkan energi dari matahari yang tidak diubah menjadi bentuk energi lain seperti diubah menjadi karbohidrat oleh tanaman dalam bentuk radiasi inframerah. Tetapi tidak semua radiasi panas inframerah dari permukaan bumi tertahan oleh gas-gas yang ada di atmosfer. Gas-gas yang ada di atmosfer menyerap energi panas pantulan dari bumi.
Dalam skala yang lebih kecil – hal yang sama juga terjadi di dalam rumah kaca. Radiasi sinar matahari menembus kaca, lalu masuk ke dalam rumah kaca. Pantulan dari benda dan permukaan di dalam rumah kaca adalah berupa sinar inframerah dan tertahan atap kaca yang mengakibatkan udara di dalam rumah kaca menjadi hangat walaupun udara di luar dingin. Efek memanaskan itulah yang disebut efek rumah kaca atau ”green house effect”. Gas-gas yang berfungsi bagaikan pada rumah kaca disebut gas rumah kaca atau ”green house gases”.
2. Proses terjadi.
Proses terjadinya efek rumah kaca ini berkaitan dengan daur aliran panas matahari. Kurang lebih 30% radiasi matahari yang mencapai tanah dipantulkan kembali ke angkasa dan diserap oleh uap, gas karbon dioksida, nitrogen, oksigen, dan gas-gas lain di atmosfer. Sisanya yang 70% diserap oleh tanah, laut, dan awan. Pada malam hari tanah dan badan air itu relatif lebih hangat daripada udara di atasnya. Energi yang terserap diradiasikan kembali ke atmosfer sebagai radiasi inframerah, gelombang panjang atau radiasi energi panas. Sebagian besar radiasi inframerah ini akan tertahan oleh karbon dioksida dan uap air di atmosfer. Hanya sebagian kecil akan lepas ke angkasa luar. Akibat keseluruhannya adalah bahwa permukaan bumi dihangatkan oleh adanya molekul uap air, karbon dioksida, dan semacamnya. Efek penghangatan ini dikenal sebagai efek rumah kaca.
Sedangkan proses secara singkatnya yaitu ketika sinar radiasi matahari menembus kaca sebagai gelombang pendek sehingga panasnya diserapa oleh bumi dan tanaman yang ada di dalam rumah kaca tersebut. Untuk selanjutnya, panas tersebut di radiasikan kembali namun dengan panjang gelombang yang panjang(panjang geklombang berbanding dengan energi) sehingga sinar radiasi tersebut tidak dapat menembus kaca. Akibatnya, suhu di dalam rumah kaca lebih tinggi dibandingkan dengan suhu yang di luar rumah kaca.
Ket: gambar disamping menjelaskan siklus efek rumah kaca.
3. Pengaruh
Pengaruh rumah kaca terbentuk dari interaksi antara atmosfer yang jumlahnya meningkat dengan radiasi solar. Meskipun sinar matahari terdiri atas bermacam-macam panjang gelombang, kebanyakan radiasi yang mencapai permukaan bumi terletak pada kisaran sinar tampak. Hal ini disebabkan ozon yang terdapat secara normal di atmosfer bagian atas, menyaring sebagian besar sinar ultraviolet. Uap air atmosfer dan gas metana dari pembusukan – mengabsorpsikan sebagian besar inframerah yang dapat dirasakan pada kulit kita sebagai panas. Kira-kira sepertiga dari sinar yang mencapai permukaan bumi akan direfleksikan kembali ke atmosfer.
Sebagian besar sisanya akan diabsorpsikan oleh benda-benda lainnya. Sinar yang diabsorpsikan tersebut akan diradiasikan kembali dalam bentuk radiasi inframerah dengan gelombang panjang atau panas jika bumi menjadi dingin. Sinar dengan panjang gelombang lebih tinggi tersebut akan diabsorpsikan oleh karbon dioksida atmosfer dan membebaskan panas sehingga suhu atmosfer akan meningkat. Karbon dioksida berfungsi sebagai filter satu arah, tetapi menghambat sinar dengan panjang gelombang lebih untuk melaluinya dari arah yang berlawanan. Aktivitas filter dari karbon dioksida mengakibatkan suhu atmosfer dan bumi akan meningkat. Keadaan inilah yang disebut pengaruh rumah kaca.
Pengaruh karbon dioksida yang dihasilkan dari pencemaran udara berbentuk gas yang salah satunya adalah dari rumah kaca. Karbon dioksida mempunyai sifat menyerap sinar (panas) matahari yaitu sinar inframerah – sehingga temperatur udara menjadi lebih tinggi karenanya. Apabila kadar yang lebih ini merata di seluruh permukaan bumi, temperatur udara rata-rata di seluruh permukaan bumi akan sedikit naik, dan ini dapat mengakibatkan meleburnya es dan salju di kutub dan di puncak-puncak pegunungan, sehingga permukaan air laut naik.
4. Dampak
Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara Kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.
Menurut perkiraan, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5°C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5°C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.
Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorpsinya. Energi yang masuk ke bumi mengalami: 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer 25% diserap awan 45% diabsorpsi permukaan bumi 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi.
Energi yang diabsorpsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro karbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
D. Hubungan pertumbuhan penduduk yang padat dengan keadaan lingkungan dan sumber daya alam.
1. Pertumbuhan penduduk dan kerusakan lingkungan.
Masalah kependudukan dan kerusakan lingkungan hidup merupakan dua permasalahan yang kini sedang dihadapi bangsa Indonesia, khususnya maupun negara-negara lainnya di dunia umumnya. Brown (1992:265-280), menyatakan bahwa masalah lingkungan hidup dan kependudukan yaitu masalah pencemaran lingkungan fisik, desertifikasi, deforestasi, overs eksploitasi terhadap sumber-sumber alam, serta berbagai fenomena degradasi ekologis semakin hari semakin menujukkan peningkatan yang signifikan. Keprihatinan ini tidak saja memberikan agenda penanganan masalah lingkungan yang bijak. Namun juga merupakan “warning” bagi kehidupan, bahwa kondisi lingkungan hidup sedang berada pada tahap memprihatinkan. Seandainya tidak dilakukan upaya penanggulangan secara serius, maka dalam jangka waktu tertentu kehidupan ini akan musnah. Hal ini terjadi menurut Soemarwoto (1991:1), karena lingkungan (alam) tidak mampu lagi memberikan apa-apa kepada kita. Padahal seperti kita ketahui bahwa manusia merupakan bagian integral dari lingkungan hidupnya, ia tidak dapat dipisahkan dari padanya.
Padatnya penduduk suatu daerah akan menyebabkan ruang gerak suatu daerah semakin terciut, dan hal ini disebabkan manusia merupakan bagian integral dari ekosistem, dimana manusia hidup dengan mengekploitasi lingkungannya. Pertumbuhan penduduk yang cepat meningkatkan permintaan terhadap sumber daya alam. Pada saat yang sama meningkatnya konsumsi yang disebabkan oleh membengkaknya jumlah penduduk yang pada akhirnya akan berpengaruh pada semakin berkurangnya produktifitas sumber daya alam. Menurut Wijono (1998:5) kondisi sebagaimana digambarkan tersebut dapat diibaratkan seperti lilin, pertumbuhan penduduk yang cepat akan membakar lilin dari kedua ujungnya. Sehingga batang lilin itu akan cepat meleleh dan habis. Konsekwensinya adalah berubahnya salah satu atau beberapa komponen dalam ekosistem, mengakibatkan perubahan pada interaksi komponen-komponen itu, sehingga struktur organisasi dan sifat-sifat fungsional ekosistem akan berubah pula.
2. Pertumbuhan penduduk dan Sumber Daya Alam.
Secara matematis, laju pertumbuhan penduduk sangat berkaitan erat dengan ketersediaan sumber daya alam, jika laju pertumbuhan penduduk tinggi maka ketersediaan sumber daya alam akan menipis, karena manusia merupakan konsumen sumber daya alam yang sangat besar.
Meskipun ada jalan untuk mengurangi dampak negatifnya, namun itu sangat kecil keberhasilannya, karena manusia sangat membutuhkan SDA yang ada. SDA membutuhkan lahan yang cukup luas, sedangkan manusia untuk tinggal juga membutuhkan lahan yang sangat luas untuk dapat tinggal. Maka harus ada salah satu yang dikorbankan. Maka secara ilmiah, SDA akan dikorbankan demi tempat tinggal manusia.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pencemaran lingkungan hidup merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi setiap bangsa. Namun jika ditelaah, maka penyebab pencemaran lingkungan sendiri berasal dari diri manusia sendiri, diantaranya:
1. Penebangan hutan secara liar
2. Pencemaran air
3. Pencemaran tanah
4. Perubahan iklim
5. Pemanasan global
6. Efek rumah kaca
7. Pencemaran udara
Dari penyebab diatas, hampir semuanya disebabkan oleh tangan manusia. Dan kebanyakan manusia tidak menyadarinya karena keinginan manusia yang ingin mengambil keuntungan yang besar dari lingkungan hidup.
B. SARAN
Dalam menaggulangi pencemaran lingkungan hidup, maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan, diantaranya:
1. Manusia harus sadar bahwa lingkungan merupakan tempat mereka melangsungkan kehidupan mereka dan tanpa adanya lingkungan, maka manusia tidak akan bisa hidup.
2. Melakukan selektif dalam menebang hutan, karena jika hutan ditebang dengan selektif maka pohon yang masih muda dapat diselamatkan.
3. Mengurangi emisi gas buang.
4. Melakukan peremajaan terhadap hutan.
5. Membuang sampah pada tempatnya.
6. Mengganti bahan bakar minyak dengan tenaga tata surya yang ramah lingkungan
DAFTAR PUSTAKA
Sudrajad, Agung., 2006Pencemaran Udara, Suatu Pendahuluan diakses pada
tanggal 15 Juni 2011 dari: http//kamase_ugm@yahoo.co.id
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. Pengertian Pencemaran Udara,
Jakarta, 14 Juni 2011.
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. Zat – zat Pencemar Udara,
Jakarta, 15 Juni 2011.
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. Pengendalian Pencemaran Udara, Jakarta, 11 Juni 2011
http://gogrenindonesia.blogspot.com
http:// www.walhi.or.id/ kampanye/cemar/udara/penc_udara_info_020604/
http://afand.cybermq.com/post/detail/2405/linkungan-hidup-kerusakan-lingkungan-pengertian-kerusakan-lingkungan-dan-pelestarian- diakses kamis 10:20 WIB
http://green.kompasiana.com/group/penghijauan/2010/05/19/seperti-apa-menangani-masalah-lingkungan/ diakses senin 12:50 WIB
http://id.shvoong.com/books/1632979-kepemimpinan-hijau-visi-praktis-memecahkan/ diakses senin 12:50 WIB
MAKALAH
ILMU ALAM DASAR
PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP
Disusun Oleh:
M. ABD. VAN FAYSA
17214/2010/PLB
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2011
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji syukur penulis haturkan kepada Alloh swt yang telah memberikan rahmat dan nikmat-Nya sehingga penulis dapa menyelesaikan makalah Ilmu Alam Dasar yang mengupas tentang Pencemaran Lingkungan Hidup. Sholawat dan Salam semoga selalu tercurah kepada baginda Rosululloh saw yang telah membawa cahaya kepermukaan bumi ini.
Rasa terima kasih penulis sampaikan kepada Buk Maihelendra, MS yang telah membimbing perkuliahan Ilmu Alam Dasar dan membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Selanjutnya kepada rekan-rekan yang telah menyumbangkan pikirannya dalam makalah ini.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari bahwa terdapat berbagai macam kesalahan dan kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk kebaikan dimasa yang akan datang.
Padang, Juni 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. BATASAN MASALAH
C. RUMUSAN MASALAH
D. TUJUAN
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan manusia, tediri dari dua unsur, diantaranya: manusia sendiri dan lingkungan baik lingkungan hidup maupun mati. Manusia mempunyai peranan penting dalam kelangsungan kehidupan, namun manusia tidak akan hidup tanpa adanya lingkungan, berat diantara kedua unsur diatas sangat saling berkaitan.
Meskipun demikian, manusia diberi kelebihan oleh Tuhan Yang Maha Esa yaitu Akal yang dapat digunakan untuk berfikir dan memanfaatkan lingkungan. Namun disisi lain, nafsu juga menyelimuti kehidupan manusia, sehingga terkadang akal manusia dapat ditaklukan oleh nafsu dan melakukan kerusakan terhadap lingkungan.
Pada zaman yang serba canggih ini, maka kerusakan lingkungan tidak dapat terelakkkan lagi, karena keinginan manusia ingin membangun perumahan yang sangat besar dan memanfaatkan lingkungan secara berlebihan.
B. Batasan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mengambil batasan masalah mengenai “pencemaran lingkungan hidup”.
C. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang akan penulis angkat dalam makalah ini adalah:
1. Berikanlah contoh isu lingkungan dari segi regional, nasional dan global beserta penyebabnya?
2. Jelaskan pengertian dengan pencemaran air, udara, dan tanah serta penyebab dan akibatnya?
3. Jelaskanlah pengertian efek rumah kaca serta penyebab dan akibatnya terhadap lingkungan?
4. Jelaskanlah dampak pertumbuhan penduduk yang pesat terhadap Sumber Daya Alam dan kerusakan yang ditimbulkannya?
D. Tujuan
Tujuan dalampenulisan makalah ini adalah:
1. Memahami contoh isu lingkungan hidup dari segi regional, nasional dan global beserta penyebabnya.
2. Mengetahui pengertian pencemaran air, udara, dan tanah serta penyebab dan akibatnya.
3. Mengetahui pengertian efek rumah kaca serta penyebab dan akibatnya terhadap lingkungan.
4. Memahami dampak pertumbuhan penduduk yang pesat terhadap Sumber Daya Alam dan kerusakan yang ditimbulkannya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Contoh isu lingkungan dan penyebabnya.
1. Regional
Isu lingkungan yang sangat menonjol pada daerah-daerah di indonesia, terutama di kota Padang adalah:
1) Sampah yang melimpah.
Seperti daerah lainnya, konsekuensi dari banyaknya penduduk disuatu daerah adalah banyaknya sampah yang dihasilkan. Kota Padang merupakan ibu kota Sumatera Barat, oleh karena itu, segala pusat kegiatan yang pokok terpaku pada kota Padang, selain itu, kota Padang juga menjadi salah satu tujuan tempat menuntut ilmu yang ideal, terlebih dengan adanya beberapa universitas terkemuka yang banyak mengundang orang dari luar kota, bahkan dari luar provinsidan negara.
Penyebab lainnya adalah kesadaran masyarakat yang hampir hilang terhadap kebersihan. Masyarakat hanya menganggap bahwa kebersihan adalah tugas kebersihan.
Sampah yang paling banyak dikota Padang terletak di tepi pantai dan di pusat kota.
2) Sanitasi yang sangat jelek.
Kebersihan kota dan indahnya kota juga terlihat dari sanitasi yang lancar. Dikota Padang, sanitasi menjadi salah satu permasalahan lingkungan. Hal ini disebabkan oleh beberapa sebab, diantaranya:
a. Masyarakat yang membuang sampah keselokan.
b. Cuaca kota padang yang panas, sehingga air tidak mengalir dengan lancar.
3) Lahan yang semakin sempit.
Seiring berjalannya waktu, kota Padang menjadi daerah yang maju dan siap bersaing dengan daerah lainnya. Namun, dampak dari kemajuan itu adalah lahan yang semula digunakan untuk penanaman pohon diubah menjadi lahan pembangnan, sehingga pangan untuk masyarakat padang mengandalkan pangan dari daerah lain.
4) Penggunaan SDA yang berlebihan.
Di Padang terdapat beberapa sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan, diantaranya pasir sungai. Meskipun demikian, keinginan manusia yang ingin cepat kaya, maka masyarakat mengeksploitasi pasir tersebut secara berlebihan. Dampaknya adalah ketika hujan lebat, maka sungai aliran sungai tidak terbendung sehingga sering berakibat pengikisan tepi sungai.
Ket: sungai yang hampir habis karena pasirnya diambil secar berlebihan.
2. Nasional
Lebih luas lagi, beberapa isu lingkungan tingkat nasional yang sering dibicarakan dan sangat hangat ditelinga adalah;
1) Perubahan iklim.
Beberapa daerah tertentu di Indonesia sangat rentan terhadap beragam bahayaperubahan iklim. Meskipun temperatur udara di Indonesia kemungkinanakan mengalami sedikit kenaikan, perubahan iklim akan mengakibatlkancurah hujan yang lebih besar dan kenaikan permukaan laut.
Masyarakat dan ekosistem yang sangat rentan terhadap risiko perubahan iklim beradadi Jawa, Bali, beberapa bagian Sumatra dan sebagian besar Papua.Pemanasan laut juga akan berpengaruh pada keanekaragaman hayati lautdan sangat berbahaya bagi terumbu karang, yang sebelumnya telah risikopemutihan. Dampak potensial dari pembangunan meliputi :
• Peningkatan ancaman terhadap ketersediaan pangan
• Penurunan produktivitas pertanian
• Banjir yang melanda zona dan komunitas pesisir yang produktif
• Hilangnya mata pencaharian usaha tani dan pesisir
• Peningkatan intensitas penyakit yang ditularkan melalui air dan vektor.
Akar penyebab
Tingkat emisi gas rumah kaca yang tinggi di Indonesia disebabkan oleh deboisasi, kebakaran hutan dan degradasi lahan, khususnya lahan gambut. Emisi gas telah diatur dalam kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang tepat namun pelaksanaan dan penegakkannya masih lemah. Selain itu, inisiatif-inisiatif seperti perluasan produksi biofuel dan revitalisasi industri kehutanan dapat memperburuk emisi gas jika tidak direncanakan dengan hati-hati. Emisi dari sektor energi relatif kecil namun semakin meningkat dengan pesat - bahkan lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi. Akar penyebab masalah di bidang ini mencakup pelaksanaan program perluasan pembangkit listrik tenaga batu bara oleh Pemerintah RI dan rintangan terhadap pengembangan sumber energi yang dapat diperbaharui. Akhirnya, perencanaan atau investasi untuk mengurangi dampak emisi masih relatif sedikit, dan adaptasi dengan perubahan iklim.
2) Sampah
Jika melihat Indonesia, maka yang terlintas adalah banyaknya sampah yang bertebaran dimana-mana. Keadaan sampah di Indonesia sangat memprihatinkan, bahkan kota Denpasar sempat diisukan menjadi Neraka Dunia karena banyaknya sampah yang ada di tepi pantai kuta Bali.
Bahkan ibukota negara Indonesia, yaitu Jakarta juga memiliki rekor sampah yang cukup besar. Penyebab sampah ini adalah banyaknya masayarakat yang tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan, selain itu, sampah kiriman terkadang menjadi dalang terhadap sampah yang ada disuatu daerah.
Ket: bentuk ibu kota indonesia yang penuh dengan sampah dimana-mana.
3) Sanitasi yang buruk.
Menurut data bank dunia, Indonesia memilki sanitasi yang buruk dan berakibat pada pengeluaran dana yang semakin besar. Selain itu, hampir setiap daerah diIndonesia memiliki sanitasi yang buruk sehingga dampaknya semakin luas. Penyebab dari sanitasi yang buruk ini adalah kurangnya selokan-selokan yang strategis dan kalau ada selokan, itupun sudah rusak. Selain itu penyebab lainnya adalah masayrakat yang sering membuang sampah sembarangan termasuk kedalam selokan.
4) Pengundulan hutan
Indonesia merupakan paru-paru dunia, di Indonesia terdapat beberapa hutan yang menghasilkan oksigen dalam jumlah besar. Meskipun julukan itu desematkan ke Indonesia namun tidak membuat masyarakat Indonesia untuk menjaga kelestarian hutan.
Penyebab pengundulan hutan ini diantaranya:
a. Penebangan hutan secara liar.
Penebangan hutan secara liar sangat rentan terjadi di Indonsia, hal ini disebabkan oleh tingkat ekonomi penduduk yang lemah, harga kayu yang mahal dan para usahawan yang ingin meraup unung sebesar-besarnya.
Ket: Beberapa keadaan hutan yang telah ditebang secara liar dan tidak ditanam kembali dengan pohon baru.
b. Kebakaran hutan
Kebakaran hutan juga sering terjadi di Indonesia, diantaranya yang terjadi di Riau, Kalimantan dam daerah lainnya. Kebakaran hutan ini disebabkan oleh kelalaian manusia yang membakar sedikit lahan namun kebakaran tersebut meluas.
Ket: Kondisi hutan yang telah terbakar.
c. Pengalih gunaan hutan
Karena lahan yang sempit untuk membangun perumahan yang baru, maka salah satu jalannya adalah dengan menggunakan hutan sebagai gantinya. Selain itu, pengalih gunaan hutan juga disebabkan oleh penanaman kelapa sawit.
Ket: hutan yang akan ditanami pohon produksi lainnya.
3. Global
Isu lingkungan secara global yang semakin mencuat dan sering dibicarakan oleh para pemimpin dunia adalah perubahan iklim yang secara drastis. Perubahan iklim ini terjadi oleh beberapa sebab, diantaranya, penebangan hutan secar liar, efek rumah kaca, asap karbondioksida dari pabrik-pabrik didunia dan pecahnya es dikutup bumi.
Iklim yang tidak teratur sangat berdampak pada aktivitas manusia, kelangsungan ekonomi, dan roda perpolotikan. Perubahan iklim di dunia tidak lepas dari tanggung jawab negara-negara yang ada, namun yang paling bertanggung jawab adalah negara maju, karena mereka memilki emisi gas buang yang banyak dan tidak memiliki hutan yang memadai.
Selain perubahan iklim, pemanasan global pun menjadi isu lingkungan yang tidak dapat terelakkan, karena hampir disetiap sisi negara diatas muka bumi mengalami panas, bahakan negara yang awalnya dingin dan tak ada sejarah mengenai adanya panas disana malah mengalami panas yang panjang.
B. Pengertian pencemaran air, udara, tanah serta penyebab dan dampaknya.
1. Pencemaran Air
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran.
Penyebab
Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
• Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi.
• Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem.
• Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.
Dampaknya
• Di Jepang antara tahun 1953- 1960, lebih dari 100 orang meninggal atau cacat karena mengkonsumsi ikan yang berasal dari Teluk Minamata. Teluk ini tercemar merkuri yang bearasal dari sebuah pabrik plastik. Senyawa merkuri yang terlarut dalam air masuk melalui rantai makanan, yaitu mula-mula masuk ke dalam tubuh mikroorganisme yang kemudian dimakan yang dikonsumsi manusia. Bila merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pencernaan, dapat menyebabkan kerusakan akut pada ginjal sedangkan pada anak-anak dapat menyebabkan Pink Disease/ acrodynia, alergi kulit dan kawasaki disease/ mucocutaneous lymph node syndrome.
• Bila senyawa metil merkuri masuk ke dalam tubuh manusiamelalui media air, akan menyebabkan keracunan seperti yang dialami para korban Tragedi Minamata.
• Pestisida mempunyai sifat relatif tidak larut dalam air, tetapi mudah larut dan cenderung konsentrasinya meningkat dalam lemak dan sel-sel tubuh mahluk hidup disebut Biological Amplification, sehingga apabila masuk dalam rantai makanan konsentrasinya makin tinggi dan yang tertinggi adalah pada konsumen puncak. Contohnya ketika di dalam tubuh ikan kadarnya 6 ppm, di dalam tubuh burung pemakan ikan kadarnya naik menjadi 100 ppm dan akan meningkat terus sampai konsumen puncak.
• Sehingga tetap aktif untuk jangka waktu yang lama. Penggunaan deterjen secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai atau danau. Fosfat ini merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis. Jika tumbuhan air ini mati, akan terjadi proses pembusukan yang menghabiskan persediaan oksigen dan pengendapan bahan-bahan yang menyebabkan pendangkalan.
2. Pencemaran Udara
Pencemaran udara adalah masuk atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam udara dan atau berubahnya susunan udara oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya.Terjadinya pengurangan maupun penambahan salah satu komponen kimia yang terkandung dalam udara (perubahan dari komposisi tersebut di atas) yang secara langsung atau tidak mempengaruhi kesehatan, keamanan dan kenyamanan manusia.
Sumber pencemaran udara :
a. Transportasi (sumber bergerak)
Ket:jumlah keadaan yang begitu banyak juga mempengaruhi kualitas udara.
b. Pembakaran bahan bakar dari sumber tetap
ket: terkadang kebakaran banguan maupun hutan juga menjadi sumber penyebab dari pencemaran udara.
c. Proses industri (sumber tetap)
Ket: industri negara maju sangat berpengaruh terhadap pencemaran udara
d. Pembangunan limbah padu (sumber tetap)
Sumber pencemaran dan faktor-faktor yang mempengaruhinya Pencemaran udara out door dan Pencemaran udara in door
Dampak Pencemaran Udara :
- Penipisan Ozon
- Pemanasan Global ( Global Warming )
- Penyakit pernapasan, misalnya : jantung, paru-paru dan tenggorokan
- Terganggunya fungsi reproduksi
- Stres dan penurunan tingkat produktivitas
- Kesehatan dan penurunan kemampuan mental anak-anak
- Penurunan tingkat kecerdasan (IQ) anak-anak.
- Keracunan gas CO timbul sebagai akibat terbentuknya karboksihemoglobin (COHb) dalam darah. Afinitas CO yang lebih besar dibandingkan dengan oksigen (O2) terhadap Hb menyebabkan fungsi Hb untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi terganggu. Berkurangnya penyediaan oksigen ke seluruh tubuh ini akan membuat sesak napas dan dapat menyebabkan kematian, apabila tidak segera mendapat udara segar kembali. Sedangkan bahan pencemar udara seperti NOx, SOx, dan H2S dapat merangsang pernapasan yang mengakibatkan iritasi dan peradangan.
3. Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).
Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.
Dampak
Pada kesehatan Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur masuk ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Kromium, berbagai macam pestisida dan herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua populasi. Timbal sangat berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh populasi.
Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terkena leukemia. Merkuri (air raksa) dan siklodiena dikenal dapat menyebabkan kerusakan ginjal, beberapa bahkan tidak dapat diobati. PCB dan siklodiena terkait pada keracunan hati. Organofosfat dan karmabat dapat dapat menyebabkan ganguan pada saraf otot. Berbagai pelarut yang mengandung klorin merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang tampak seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit untuk paparan bahan kimia yang disebut di atas. Yang jelas, pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian.
Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem[1]. Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut. Bahkan jika efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah, bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia asing yang lama-kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk penghuni piramida atas. Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti konsentrasi DDT pada burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat kematian anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.
Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.
C. Pengertian efek rumah kaca dan akibatnya.
1. Pengertian efek rumah kaca
Efek rumah kaca, pertama kali ditemukan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan sebuah proses di mana atmosfer memanaskan sebuah planet. Mars, Venus, dan benda langit beratmosfer lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah kaca.
Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia (lihat juga pemanasan global). Yang belakangan ini diterima oleh semua; yang pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.
Ketika radiasi matahari tampak maupun tidak tampak dipancarkan ke bumi, 10 energi radiasi matahari itu diserap oleh berbagai gas yang ada di atmosfer, 34% dipantulkan oleh awan dan permukaan bumi, 42% membuat bumi menjadi panas, 23% menguapkan air, dan hanya 0,023% dimanfaatkan tanaman untuk perfotosintesis.
Malam hari permukaan bumi memantulkan energi dari matahari yang tidak diubah menjadi bentuk energi lain seperti diubah menjadi karbohidrat oleh tanaman dalam bentuk radiasi inframerah. Tetapi tidak semua radiasi panas inframerah dari permukaan bumi tertahan oleh gas-gas yang ada di atmosfer. Gas-gas yang ada di atmosfer menyerap energi panas pantulan dari bumi.
Dalam skala yang lebih kecil – hal yang sama juga terjadi di dalam rumah kaca. Radiasi sinar matahari menembus kaca, lalu masuk ke dalam rumah kaca. Pantulan dari benda dan permukaan di dalam rumah kaca adalah berupa sinar inframerah dan tertahan atap kaca yang mengakibatkan udara di dalam rumah kaca menjadi hangat walaupun udara di luar dingin. Efek memanaskan itulah yang disebut efek rumah kaca atau ”green house effect”. Gas-gas yang berfungsi bagaikan pada rumah kaca disebut gas rumah kaca atau ”green house gases”.
2. Proses terjadi.
Proses terjadinya efek rumah kaca ini berkaitan dengan daur aliran panas matahari. Kurang lebih 30% radiasi matahari yang mencapai tanah dipantulkan kembali ke angkasa dan diserap oleh uap, gas karbon dioksida, nitrogen, oksigen, dan gas-gas lain di atmosfer. Sisanya yang 70% diserap oleh tanah, laut, dan awan. Pada malam hari tanah dan badan air itu relatif lebih hangat daripada udara di atasnya. Energi yang terserap diradiasikan kembali ke atmosfer sebagai radiasi inframerah, gelombang panjang atau radiasi energi panas. Sebagian besar radiasi inframerah ini akan tertahan oleh karbon dioksida dan uap air di atmosfer. Hanya sebagian kecil akan lepas ke angkasa luar. Akibat keseluruhannya adalah bahwa permukaan bumi dihangatkan oleh adanya molekul uap air, karbon dioksida, dan semacamnya. Efek penghangatan ini dikenal sebagai efek rumah kaca.
Sedangkan proses secara singkatnya yaitu ketika sinar radiasi matahari menembus kaca sebagai gelombang pendek sehingga panasnya diserapa oleh bumi dan tanaman yang ada di dalam rumah kaca tersebut. Untuk selanjutnya, panas tersebut di radiasikan kembali namun dengan panjang gelombang yang panjang(panjang geklombang berbanding dengan energi) sehingga sinar radiasi tersebut tidak dapat menembus kaca. Akibatnya, suhu di dalam rumah kaca lebih tinggi dibandingkan dengan suhu yang di luar rumah kaca.
Ket: gambar disamping menjelaskan siklus efek rumah kaca.
3. Pengaruh
Pengaruh rumah kaca terbentuk dari interaksi antara atmosfer yang jumlahnya meningkat dengan radiasi solar. Meskipun sinar matahari terdiri atas bermacam-macam panjang gelombang, kebanyakan radiasi yang mencapai permukaan bumi terletak pada kisaran sinar tampak. Hal ini disebabkan ozon yang terdapat secara normal di atmosfer bagian atas, menyaring sebagian besar sinar ultraviolet. Uap air atmosfer dan gas metana dari pembusukan – mengabsorpsikan sebagian besar inframerah yang dapat dirasakan pada kulit kita sebagai panas. Kira-kira sepertiga dari sinar yang mencapai permukaan bumi akan direfleksikan kembali ke atmosfer.
Sebagian besar sisanya akan diabsorpsikan oleh benda-benda lainnya. Sinar yang diabsorpsikan tersebut akan diradiasikan kembali dalam bentuk radiasi inframerah dengan gelombang panjang atau panas jika bumi menjadi dingin. Sinar dengan panjang gelombang lebih tinggi tersebut akan diabsorpsikan oleh karbon dioksida atmosfer dan membebaskan panas sehingga suhu atmosfer akan meningkat. Karbon dioksida berfungsi sebagai filter satu arah, tetapi menghambat sinar dengan panjang gelombang lebih untuk melaluinya dari arah yang berlawanan. Aktivitas filter dari karbon dioksida mengakibatkan suhu atmosfer dan bumi akan meningkat. Keadaan inilah yang disebut pengaruh rumah kaca.
Pengaruh karbon dioksida yang dihasilkan dari pencemaran udara berbentuk gas yang salah satunya adalah dari rumah kaca. Karbon dioksida mempunyai sifat menyerap sinar (panas) matahari yaitu sinar inframerah – sehingga temperatur udara menjadi lebih tinggi karenanya. Apabila kadar yang lebih ini merata di seluruh permukaan bumi, temperatur udara rata-rata di seluruh permukaan bumi akan sedikit naik, dan ini dapat mengakibatkan meleburnya es dan salju di kutub dan di puncak-puncak pegunungan, sehingga permukaan air laut naik.
4. Dampak
Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara Kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.
Menurut perkiraan, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5°C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5°C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.
Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorpsinya. Energi yang masuk ke bumi mengalami: 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer 25% diserap awan 45% diabsorpsi permukaan bumi 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi.
Energi yang diabsorpsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro karbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
D. Hubungan pertumbuhan penduduk yang padat dengan keadaan lingkungan dan sumber daya alam.
1. Pertumbuhan penduduk dan kerusakan lingkungan.
Masalah kependudukan dan kerusakan lingkungan hidup merupakan dua permasalahan yang kini sedang dihadapi bangsa Indonesia, khususnya maupun negara-negara lainnya di dunia umumnya. Brown (1992:265-280), menyatakan bahwa masalah lingkungan hidup dan kependudukan yaitu masalah pencemaran lingkungan fisik, desertifikasi, deforestasi, overs eksploitasi terhadap sumber-sumber alam, serta berbagai fenomena degradasi ekologis semakin hari semakin menujukkan peningkatan yang signifikan. Keprihatinan ini tidak saja memberikan agenda penanganan masalah lingkungan yang bijak. Namun juga merupakan “warning” bagi kehidupan, bahwa kondisi lingkungan hidup sedang berada pada tahap memprihatinkan. Seandainya tidak dilakukan upaya penanggulangan secara serius, maka dalam jangka waktu tertentu kehidupan ini akan musnah. Hal ini terjadi menurut Soemarwoto (1991:1), karena lingkungan (alam) tidak mampu lagi memberikan apa-apa kepada kita. Padahal seperti kita ketahui bahwa manusia merupakan bagian integral dari lingkungan hidupnya, ia tidak dapat dipisahkan dari padanya.
Padatnya penduduk suatu daerah akan menyebabkan ruang gerak suatu daerah semakin terciut, dan hal ini disebabkan manusia merupakan bagian integral dari ekosistem, dimana manusia hidup dengan mengekploitasi lingkungannya. Pertumbuhan penduduk yang cepat meningkatkan permintaan terhadap sumber daya alam. Pada saat yang sama meningkatnya konsumsi yang disebabkan oleh membengkaknya jumlah penduduk yang pada akhirnya akan berpengaruh pada semakin berkurangnya produktifitas sumber daya alam. Menurut Wijono (1998:5) kondisi sebagaimana digambarkan tersebut dapat diibaratkan seperti lilin, pertumbuhan penduduk yang cepat akan membakar lilin dari kedua ujungnya. Sehingga batang lilin itu akan cepat meleleh dan habis. Konsekwensinya adalah berubahnya salah satu atau beberapa komponen dalam ekosistem, mengakibatkan perubahan pada interaksi komponen-komponen itu, sehingga struktur organisasi dan sifat-sifat fungsional ekosistem akan berubah pula.
2. Pertumbuhan penduduk dan Sumber Daya Alam.
Secara matematis, laju pertumbuhan penduduk sangat berkaitan erat dengan ketersediaan sumber daya alam, jika laju pertumbuhan penduduk tinggi maka ketersediaan sumber daya alam akan menipis, karena manusia merupakan konsumen sumber daya alam yang sangat besar.
Meskipun ada jalan untuk mengurangi dampak negatifnya, namun itu sangat kecil keberhasilannya, karena manusia sangat membutuhkan SDA yang ada. SDA membutuhkan lahan yang cukup luas, sedangkan manusia untuk tinggal juga membutuhkan lahan yang sangat luas untuk dapat tinggal. Maka harus ada salah satu yang dikorbankan. Maka secara ilmiah, SDA akan dikorbankan demi tempat tinggal manusia.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pencemaran lingkungan hidup merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi setiap bangsa. Namun jika ditelaah, maka penyebab pencemaran lingkungan sendiri berasal dari diri manusia sendiri, diantaranya:
1. Penebangan hutan secara liar
2. Pencemaran air
3. Pencemaran tanah
4. Perubahan iklim
5. Pemanasan global
6. Efek rumah kaca
7. Pencemaran udara
Dari penyebab diatas, hampir semuanya disebabkan oleh tangan manusia. Dan kebanyakan manusia tidak menyadarinya karena keinginan manusia yang ingin mengambil keuntungan yang besar dari lingkungan hidup.
B. SARAN
Dalam menaggulangi pencemaran lingkungan hidup, maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan, diantaranya:
1. Manusia harus sadar bahwa lingkungan merupakan tempat mereka melangsungkan kehidupan mereka dan tanpa adanya lingkungan, maka manusia tidak akan bisa hidup.
2. Melakukan selektif dalam menebang hutan, karena jika hutan ditebang dengan selektif maka pohon yang masih muda dapat diselamatkan.
3. Mengurangi emisi gas buang.
4. Melakukan peremajaan terhadap hutan.
5. Membuang sampah pada tempatnya.
6. Mengganti bahan bakar minyak dengan tenaga tata surya yang ramah lingkungan
DAFTAR PUSTAKA
Sudrajad, Agung., 2006Pencemaran Udara, Suatu Pendahuluan diakses pada
tanggal 15 Juni 2011 dari: http//kamase_ugm@yahoo.co.id
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. Pengertian Pencemaran Udara,
Jakarta, 14 Juni 2011.
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. Zat – zat Pencemar Udara,
Jakarta, 15 Juni 2011.
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. Pengendalian Pencemaran Udara, Jakarta, 11 Juni 2011
http://gogrenindonesia.blogspot.com
http:// www.walhi.or.id/ kampanye/cemar/udara/penc_udara_info_020604/
http://afand.cybermq.com/post/detail/2405/linkungan-hidup-kerusakan-lingkungan-pengertian-kerusakan-lingkungan-dan-pelestarian- diakses kamis 10:20 WIB
http://green.kompasiana.com/group/penghijauan/2010/05/19/seperti-apa-menangani-masalah-lingkungan/ diakses senin 12:50 WIB
http://id.shvoong.com/books/1632979-kepemimpinan-hijau-visi-praktis-memecahkan/ diakses senin 12:50 WIB
MAKALAH
ILMU ALAM DASAR
PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP
Disusun Oleh:
M. ABD. VAN FAYSA
17214/2010/PLB
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2011
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji syukur penulis haturkan kepada Alloh swt yang telah memberikan rahmat dan nikmat-Nya sehingga penulis dapa menyelesaikan makalah Ilmu Alam Dasar yang mengupas tentang Pencemaran Lingkungan Hidup. Sholawat dan Salam semoga selalu tercurah kepada baginda Rosululloh saw yang telah membawa cahaya kepermukaan bumi ini.
Rasa terima kasih penulis sampaikan kepada Buk Maihelendra, MS yang telah membimbing perkuliahan Ilmu Alam Dasar dan membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Selanjutnya kepada rekan-rekan yang telah menyumbangkan pikirannya dalam makalah ini.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari bahwa terdapat berbagai macam kesalahan dan kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk kebaikan dimasa yang akan datang.
Padang, Juni 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. BATASAN MASALAH
C. RUMUSAN MASALAH
D. TUJUAN
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Postingan (Atom)
